Untitled
Untitled
Untitled
com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
i
Senja
laru an
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
tentang Hak Cipta
1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak eko-
nomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk peng-
gunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama
1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00
(seratus juta rupiah).
2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau
pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta se-
bagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan atau huruf h, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau pidana denda paling
banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau
pemegang hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagai-
http://facebook.com/indonesiapustaka
mana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau
huruf g, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau pidana denda paling ba-
nyak Rp 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).
4. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau pidana denda paling
banyak Rp 4.000.000.000.00 (empat miliar rupiah).
ii
laru an
Senja
kumpulan cerpen
Ratih Kumala
http://facebook.com/indonesiapustaka
iii
Larutan Senja
Ratih Kumala
GM 617 202.003
Desain sampul
Suprianto
Ilustrasi
Shutterstock
Setting
Fitri Yuniar
ISBN: 978–602–03–3815–6
http://facebook.com/indonesiapustaka
vv
http://facebook.com/indonesiapustaka
vi
http://facebook.com/indonesiapustaka
11
http://facebook.com/indonesiapustaka
22
hari tiga malam lelaki Nastiti tergeletak tak berdaya di am-
ben mereka. Tubuhnya yang panas lama kelamaan membuat
kulitnya melepuh. Tumbuh bentol-bentol kecil di permuka-
annya, bahkan menyerang wajahnya juga. Tubuh lelaki Nas-
titi kian memanas bak terbakar dan selalu kehausan. Hingga
akhirnya ia tak kuat bertahan lalu memutuskan untuk me-
nyatu dengan Tuhan. Itu adalah penyakit aneh. Tak bisa ba-
rang digosok minyak atau diberi ramuan dedaunan dan akar
hutan. Tak ada yang pernah sakit seperti itu. Pada akhir ha-
yat suaminya pun Nastiti sempat berjijik memandangi mayat
lelakinya. Tapi Nastiti begitu mencintainya, maka ia sangat
histeris dengan kehilangan. Ia mulai memutar otak, sebab
tak ada penyakit sungguhan yang seperti itu wujudnya. Satu-
satunya dukun yang ada di dusun itu adalah dukun bayi, pa-
radji. Bukan rahasia lagi bahwa selain beranak, Paradji juga
melayani penyakit lainnya termasuk teluh. Paradjilah pelaku-
nya, pikirnya. Pertama-tama Nastiti hanya bergumam sendiri
dalam histeris kehilangan suaminya, lalu perkataannya sema-
kin jelas.
”Pa rad ji...,” katanya setengah berbisik.
”Apa Nastiti?” tanya ibu-ibu lain yang berusaha mene-
nangkan Nastiti.
”Pa rad ji... Paradji... PARADJI!” teriak Nastiti akhirnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka
”Kenapa Paradji?”
”Suamiku disantet Paradji!” Dan perkataannya didengar
para lelaki di kampung hingga menyebabkan mereka terbon-
dong-bondong menuju Timur perbatasan dusun, mengganggu
33
http://facebook.com/indonesiapustaka
44
http://facebook.com/indonesiapustaka
55
http://facebook.com/indonesiapustaka
66
http://facebook.com/indonesiapustaka
77
http://facebook.com/indonesiapustaka
88
http://facebook.com/indonesiapustaka
99
http://facebook.com/indonesiapustaka
10
10
bisa tidur di mana pun tempatnya, tak hanya di atas kasur te-
tapi juga di atas pohon, di antara peluru yang beterbangan, di
rawa-rawa. Bahkan kalau perlu dia tak tidur, itulah yang sering
kudapatkan, kadang ia tak tidur selama berhari-hari. Kuperha-
tikan dia selalu awas walaupun kamarnya adalah tempat yang
aman. Tapi dia senantiasa mencurigai semua orang. Kadang dia
menyerang pasien lain tanpa sebab yang jelas, perawat-perawat
terpaksa memisahkannya bahkan mengikat tangannya dengan
pakaian bebat. Bahkan beberapa kali dia menyerang dokter-
dokter, termasuk aku. Tapi Seta adalah orang yang sangat reli-
gius. Dia mengaji, salat lima waktu tak pernah ditinggalkannya.
Menurutnya, dia telah berbuat banyak dosa, dia telah mem-
bunuh, maka dia setidaknya harus mengimbangi dengan iman
agar kapan pun Tuhan memanggilnya, dia telah siap dengan ja-
waban-jawaban pembelaan yang dapat meringankan kesalahan-
kesalahannya.
Aku selalu bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa isi ke-
pala orang-orang gila ini. Rasanya aku ingin membelah teng-
korak mereka lalu mengintip ada apa di dalamnya, terutama
untuk pasien khusus semacam Seta. Dia dikirim oleh kesatu-
an yang mempekerjakannya dulu ke RSJ ini karena dia stress,
dia sudah terlalu banyak beban dengan misi-misi yang dila-
http://facebook.com/indonesiapustaka
11
11
http://facebook.com/indonesiapustaka
12
12
http://facebook.com/indonesiapustaka
13
13
http://facebook.com/indonesiapustaka
14
14
http://facebook.com/indonesiapustaka
15
15
http://facebook.com/indonesiapustaka
16
16
http://facebook.com/indonesiapustaka
17
17
http://facebook.com/indonesiapustaka
18
18
http://facebook.com/indonesiapustaka
19
19
http://facebook.com/indonesiapustaka
20
20
http://facebook.com/indonesiapustaka
21
21
http://facebook.com/indonesiapustaka
22
22
http://facebook.com/indonesiapustaka
23
23
http://facebook.com/indonesiapustaka
24
24
http://facebook.com/indonesiapustaka
25
25
http://facebook.com/indonesiapustaka
26
26
http://facebook.com/indonesiapustaka
27
27
Saat aku terbangun lagi, kudapati diriku di kamar. Demam.
Kepalaku berat sekali. Aku tak bekerja. Teno menjagaku selama
aku sakit. Katanya, aku hilang selama tiga hari dan ditemukan ha-
nya dengan celana pendek saja.
”Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?” tanya Teno.
Aku sendiri kurang tahu pasti. Kucoba menajamkan pikir, me-
nata puzzle yang berantakan. Sebuah kampung, ya... aku ingat ada
sebuah kampung yang kudatangi bersama perempuan bernama
Pongga itu. Tapi kemudian aku diusir. Aku harus pergi dari kam-
pung itu mengikuti seekor kupu-kupu yang menjadi penunjuk ja-
lan. Tapi aku diam saja, tak kututurkan kisah ini pada Teno. Aku
tak mau dianggap gila.
Hingga datang purnama berikutnya. Aku jadi begitu gelisah.
Berkali-kali aku keluar kamar, menyalakan rokok berbatang-
batang tanpa habis kuisap hingga puntung. Kucucupkan langsung
pada asbak yang mulai penuh. Sepertinya aku tengah menunggu
sesuatu. Seseorang. Ponggakah? Ah... aku bahkan tak yakin dia
benar-benar ada.
Aku akan mencarinya di hutan. Kuambil senter dan kurap-
atkan jaket. Tapi hutan bukan tempat yang ramah begitu mata-
hari tak lagi menjamah. Aku tak bertemu apa-apa. Hanya hutan
malam dan cekam, bahkan purnama pun tidak menerangi hutan
http://facebook.com/indonesiapustaka
28
28
http://facebook.com/indonesiapustaka
29
29
http://facebook.com/indonesiapustaka
30
30
http://facebook.com/indonesiapustaka
31
31
http://facebook.com/indonesiapustaka
32
32
http://facebook.com/indonesiapustaka
33
33
melengkapi ’dunia’ milik tuhan. Jika larutan ini diteteskan,
’dunia’ akan jadi begitu mengagumkan dan lebih indah. Tapi
dia tak akan memberikan larutan ini untuk tuhan. Dia akan
diam saja, menjadikannya rahasia. Walaupun dia tahu, entah
bagaimana caranya tuhan akhirnya pasti akan mengetahui
rahasianya, dan jika sudah begini tuhan pasti akan berniat
membelinya. Dia tak akan menjual larutan ini. Kalaupun dia
jual, dia akan menjualnya dengan harga tinggi.
Begini idenya; dia telah memperhatikan benar-benar pe-
nemuan ’dunia’ milik tuhan. Ada dua unsur di ’dunia’ yang
disebut tuhan sebagai ’siang’ dan ’malam’. Saat siang adalah
terang, saat malam adalah gelap. Dia membuat larutan antara
siang dan malam. Larutan yang akan menjadikan siapa pun
terpikat; ’larutan senja’ begitu dia menyebutnya.
Dia berpikir sambil bergumul dengan racikannya di ru-
ang laboratorium, menggumam-gumam sendiri mengenai pe-
nemuannya kali ini, “pertama-tama... rasa senja tidak manis
seperti siang dan tidak pahit seperti malam. Senja memiliki
rasa: hangat.” Dia meneteskan beberapa cairan rasa. “Lalu war-
na... bukan terang seperti siang. Ck... warna terang itu terlalu
jelas, bukan hitam seperti malam... terlalu pekat. Ah, ya...
aku tahu...warna senja adalah: elegan.” Kali ini dia kembali
http://facebook.com/indonesiapustaka
34
34
http://facebook.com/indonesiapustaka
35
35
http://facebook.com/indonesiapustaka
36
36
http://facebook.com/indonesiapustaka
37
37
http://facebook.com/indonesiapustaka
38
38
http://facebook.com/indonesiapustaka
39
39
http://facebook.com/indonesiapustaka
40
40
http://facebook.com/indonesiapustaka
41
41
http://facebook.com/indonesiapustaka
42
42
http://facebook.com/indonesiapustaka
43
43
http://facebook.com/indonesiapustaka
44
44
http://facebook.com/indonesiapustaka
45
45
http://facebook.com/indonesiapustaka
46
46
http://facebook.com/indonesiapustaka
47
47
http://facebook.com/indonesiapustaka
48
48
Di sana harga sapi mahal karena hewan itu kendaraan dewa
mereka. Tahun itu 1966, satu tahun setelah santer berita tujuh
jenderal yang disiksa dan dibetet mati pada Lubang Buaya,
Jakarta. Kota itu di barat Jawa sana dan kami jauh teramat
di ujung timur sini; Banyuwangi. Betapa luar biasa pengaruh
sebuah suara yang menjadi komando, menunjuk hidung siapa
saja yang terlihat menjadi curiga dan menyebut mereka dengan
’lekra’! Tetapi mereka telah menyebut ’lekra’ pada orang yang
salah. Padaku. Aku hanyalah seorang seniman yang bertahan
hidup dengan mengabdikan diri untuk koperasi Kabupaten.
Hari itu aku lupa tanggalnya. Yang kuingat, tangis anakku
tak juga henti sedari subuh menjelang senja. Sore itu aku
pulang dalam hampa; statusku tak lagi bekerja. Aku adalah
penjara yang memenjarakan dirinya sendiri. Apa yang akan
kukatakan pada anak istriku di rumah nanti; dipecat dengan
tidak hormat! Padahal gajiku waktu itu sudah lumayan. Tiga
ratus lima puluh per bulan dan beras waktu itu seharga lima
rupiah per kilo. Uang perakan berharga sepuluh dan lima ru-
piah masih berlaku, kuingat salah satunya bergambar keluarga
berencana. Aku sudah bisa berkendara motor, hidupku sudah
lumayan. Kini aku tak punya lagi sumber penghasilan. Mung-
kin nanti akan kujual motor ini, aku memutar otak hingga
http://facebook.com/indonesiapustaka
tiba di rumah.
Sebab aku bermain biola hingga mereka menyebutku
’lekra5. Hidup bagiku adalah dendang dan mereka meng-
hadiahiku dengan sara. Malam sudah turun menjadi pekat,
sehitam kopi jagung yang nikmat kuseruput sore hari. Tapi
49
49
http://facebook.com/indonesiapustaka
50
50
http://facebook.com/indonesiapustaka
51
51
http://facebook.com/indonesiapustaka
52
52
http://facebook.com/indonesiapustaka
53
53
http://facebook.com/indonesiapustaka
54
54
N amanya Ni Made Ginarni, ’’tapi kakak panggil
saya Gin Gin saja, ya...” pintanya. Aku tersenyum
seraya berkata, ’’namamu unik dan lucu kedengarannya.” Lalu
ia menjelaskan bahwa di rumah panggilannya adalah Made,
kadang juga kadek yang artinya anak kedua, ’’tapi dulu di
sekolah dipanggil Adek Gin,” tambahnya. Lalu dia tertawa
seraya memperlihatkan geliginya. Tawa yang renyah.
Gin Gin suka sekali berbicara dan ngemil. Aku bertemu
dia di bis saat aku harus pergi ke wilayah Jawa Timur karena
punya kerja. Gin Gin akan pulang ke Singaraja.
”Di mana kakak berhenti?” tanyanya.
’’Banyuwangi,” jawabku singkat.
”Yah... berarti kakak tidak ikut menyeberang, dong?” ka-
http://facebook.com/indonesiapustaka
55
55
http://facebook.com/indonesiapustaka
56
56
http://facebook.com/indonesiapustaka
57
57
http://facebook.com/indonesiapustaka
58
58
http://facebook.com/indonesiapustaka
59
59
http://facebook.com/indonesiapustaka
60
60
http://facebook.com/indonesiapustaka
61
61
http://facebook.com/indonesiapustaka
62
62
http://facebook.com/indonesiapustaka
63
63
http://facebook.com/indonesiapustaka
64
64
http://facebook.com/indonesiapustaka
65
65
pertanyaan dan surat interzonenpass2). Tentu saja Nyonya
Helga tidak punya surat-surat itu. Mungkin dia sudah puluhan
kali mengajukan ijin untuk ke Barat, tetapi sampai menjelang
ajal ia tak akan bisa mendapatkan interzonenpass. Padahal,
manula seharusnya lebih mudah untuk mendapat ijin ke
Barat selain orang-orang parlemen. Ia putus asa dan sudah
tua, butuh dirawat keluarganya. Anaknya, Georg, pun ingin
merawat ibunya, maka mereka nekad menyelundupkannya.
Kami tak perlu diceritakan lagi dari kabar-kabar burung
tentang kronologis kejadian Nyonya Helga menjadi mayat,
semua cerita adalah sama. Begini; saat ketahuan Nyonya Helga
yang malang lalu panik, terlebih karena berbondong ancaman
dan pertanyaan aparat. Ia menatap ke arah Barat, ke arah
kebebasan. Maka tanpa pikir panjang ia berlari ke sana. Nach
Westen3). Tak ada sepuluh langkah dengan kakinya yang renta
terdengar dua buah letusan. Dor!... satu. Dor!... dua. Disusul
suara tubuh berat terjatuh diiringi teriakan Georg dan istrinya.
Nyonya Helga tertembak di punggung dua kali, ia tak mam-
pu berlari cepat. Lalu suara mobil yang cepat-cepat digas dan
langsung menuju ke Barat. Mereka selamat, tapi Nyonya
Helga tidak. Petugas di Barat langsung melindungi Georg
dan istrinya yang masih terisak. Petugas di Timur praktis tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka
66
66
http://facebook.com/indonesiapustaka
67
67
http://facebook.com/indonesiapustaka
68
68
http://facebook.com/indonesiapustaka
69
69
http://facebook.com/indonesiapustaka
70
70
http://facebook.com/indonesiapustaka
71
71
http://facebook.com/indonesiapustaka
72
72
http://facebook.com/indonesiapustaka
73
73
http://facebook.com/indonesiapustaka
74
74
http://facebook.com/indonesiapustaka
75
75
http://facebook.com/indonesiapustaka
76
76
http://facebook.com/indonesiapustaka
77
77
http://facebook.com/indonesiapustaka
78
78
http://facebook.com/indonesiapustaka
79
79
http://facebook.com/indonesiapustaka
80
80
bawah pintu itu dibuka hingga sebuah tangan akan meng-
ulurkan makanan seadanya. Ia mulai terbiasa; makan, pipis
dan eek di tempat yang sama. Orang yang membersihkan
ruang pasungnya pun sangat jarang hingga suatu hari tak
pernah ada lagi yang datang membersihkannya. Ah, lagipula
hidungnya telah kedap terhadap bau yang tak sedap.
Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi? tanyakan perta-
nyaan ini padanya. Maka yakinlah jika dia bisa berkata-kata
dia akan melancarkan jawabannya. Tak ada yang benar-
benar tahu apa yang dia kerjakan di dalam sana walau ka-
dang terdengar suaranya berteriak untuk berontak. Ini hanya
menambah ngeri tanah pekuburan. Orang-orang mengira itu
suara kuntilanak jejadian penghuni kuburan. Tak pernah ada
orang yang benar-benar mendekat. Wanita berwajah penyok
telah lupa bahasa tanpa ia pernah benar-benar menguasainya.
Andaikata suatu saat dia bisa terbebas dari pasungnya, orang
akan bertanya; bagaimana ia bisa bertahan hidup? Sebab ia
telah menjadi: sendiri.
Ruang pasungnya kian reyot dan suram. Selayaknya pe-
kuburan pada umumnya, orang segan memasang penerang
sebab orang segan melihat kematian. Ruangan itu juga kian
termakan usia. Wanita berwajah penyok sendiri pun telah
http://facebook.com/indonesiapustaka
81
81
http://facebook.com/indonesiapustaka
82
82
http://facebook.com/indonesiapustaka
83
83
http://facebook.com/indonesiapustaka
84
84
http://facebook.com/indonesiapustaka
85
85
http://facebook.com/indonesiapustaka
86
86
http://facebook.com/indonesiapustaka
87
87
http://facebook.com/indonesiapustaka
88
88
http://facebook.com/indonesiapustaka
89
89
http://facebook.com/indonesiapustaka
90
90
http://facebook.com/indonesiapustaka
91
91
http://facebook.com/indonesiapustaka
92
92
http://facebook.com/indonesiapustaka
93
93
http://facebook.com/indonesiapustaka
94
94
habis menangisimu. Sedang aku, aku tak lagi punya sisa air
mata untuk ditumpahkan. Lobusku pedih tak terkatakan.
Luluh lantak bersama tubuh ringkihmu yang dihancurkan
menjadi keping oleh kafir-kafir itu.
Aku dapat mengendus kesedihan itu akan datang saat
malam perjamuan terakhir kau membagikan roti yang pun
tak sepindang, dan anggur pada satu cawan untuk dinikmati
bersama, ”ambillah, makanlah, inilah tubuhKu,” sedang ang-
gur itu ibarat darah yang ditumpahkan bagi banyak orang
untuk pengampunan dosa. Cawan pun berputar, dari satu
mulut ke mulut lain. Lalu semua pergi ke bukit Zaitun.
Sebagian diriku menyesal membiarkanmu pergi, sebagian
lagi telah benar-benar mati. Anakku, jika kau memang telah
tahu, kenapa kau pergi juga, kenapa? Aku tak kuasa mena-
hanmu. Sesaat aku mengutuk diriku sendiri. Apa pun akan
kuberikan untuk mengganti pergimu malam itu. Apa pun.
Bahkan jiwaku sendiri.
Anakku tengah berdoa di Taman Gestemani yang menjadi
saksi tiga kali penyangkalan Petrus sebelum ayam berkokok.
Itulah saat lonceng dibunyikan, tanda siksa di ujung hidup
anakku mulai dilayangkan. Aku melihat dengan mata kepa-
laku sendiri, dan aku telah benar-benar menjadi mati. Dunia
http://facebook.com/indonesiapustaka
95
95
http://facebook.com/indonesiapustaka
96
96
http://facebook.com/indonesiapustaka
97
97
http://facebook.com/indonesiapustaka
98
98
http://facebook.com/indonesiapustaka
99
99
Mbah Kaji Idris, begitu orang-orang memanggilnya. Dia
kakekku yang seluruh rambutnya masih berwarna hitam,
padahal rambut ibu dan bapakku saja sudah mulai memutih.
Pernah dalam satu kesempatan, aku membuka pecinya dan
mengawul-awul rambutnya, kucari uban tetapi tak kutemu-
kan. Hitam... hitam seluruh, berhelai-helai dan tak satu pun
runtuh. Orang-orang bilang, kakekku itu punya kemampuan
supranatural. Ia mampu berada di dua tempat pada satu waktu.
Kakekku biasa menjadi imam di masjid-masjid dan langgar,
terutama saat hari Jumat dan orang-orang mendirikan salat
Jumat. Tiap subuh datang, tubuhku diguncangkan lembut
oleh Kakek. Aku akan terbangun dan dengan malas mengambil
air wudlu serta sarung untuk salat Subuh di langgar dekat ru-
mah kami. Kakekkulah yang biasa menjadi imam tiap subuh di
langgar kecil itu. Tapi pada saat yang sama, orang dari masjid
lain yang jaraknya agak jauh dari langgar tempat kami salat,
juga akan menegur Kakek saat bersua di jalan dan bertanya
apakah besok kakekku akan menjadi imam lagi di masjidnya
seperti tadi pagi. Selalu, jawab kakekku, ”Insyaallah...” Bu-
kankah ini berarti Kakek juga menjadi imam di masjid lain?
Sementara sesubuhan Kakek bersamaku, mulai dari memba-
ngunkan sampai pulang kembali ke rumah.
http://facebook.com/indonesiapustaka
*
Radio yang dibeli Kakek itu segera saja mendapat tem-
pat terhormat di rumah kami. Di balik lemari berkaca yang
100
100
http://facebook.com/indonesiapustaka
101
101
http://facebook.com/indonesiapustaka
102
102
http://facebook.com/indonesiapustaka
103
103
http://facebook.com/indonesiapustaka
104
104
http://facebook.com/indonesiapustaka
105
105
http://facebook.com/indonesiapustaka
106
106
http://facebook.com/indonesiapustaka
107
107
http://facebook.com/indonesiapustaka
108
108
http://facebook.com/indonesiapustaka
109
109
http://facebook.com/indonesiapustaka
110
110
http://facebook.com/indonesiapustaka
111
111
http://facebook.com/indonesiapustaka
112
112
http://facebook.com/indonesiapustaka
113
113
http://facebook.com/indonesiapustaka
114
114
http://facebook.com/indonesiapustaka
115
115
http://facebook.com/indonesiapustaka
116
116
http://facebook.com/indonesiapustaka
117
117
http://facebook.com/indonesiapustaka
118
118
pulang ke nimah dalam keadaan teler, ibunya selalu me-
nunggu hingga tertidur di kursi panjang yang tak patut
disebut sebagai sofa di ruang depan rumahnya yang kecil.
Malam-malam itulah ibunya menunggu ayahnya pulang dari
pekerjaan sopir truk antar kota yang memakan waktu ber-
hari-hari jika ayahnya mulai bekerja. Saat pulang, tak jarang
ayahnya tak hanya membawa pakaian kotor, tetapi juga aro-
ma sangit keringat akibat tak mandi beberapa hari bercam-
pur minuman keras, penat yang sangat, serta sedikit uang
sisa mabuk—dan mungkin berjudi juga ke pusat pelacur-
an—hasil menyupir truk. Itu bukan pemandangan baru bagi
Qatrun. Maka itu aroma minuman keras akrab di hidungnya
yang masih muda. Jika Ibu bertanya habis dari mana, tangan
ayahnya melayang ke pipi Ibu, meninggalkan bekas meme-
rah. Sedang dirinya sendiri akan terbangun dan mengintip
dari balik tirai pintu ayahnya sedang memukuli ibunya. Lalu
mengeluarkan pakaian kotor dari tas dan menjatuhkannya
ke kepala Ibu yang masih tersungkur dan masuk kamar. Ti-
dur hingga esok hari menjelang Magrib baru bangun untuk
kemudian pergi lagi ke tempat entah. Dan pulang mabuk
lagi. Terus seperti itu. Hingga suatu hari ayahnya tak pernah
kembali walaupun Ibu masih menunggu pada malam-malam
http://facebook.com/indonesiapustaka
119
119
http://facebook.com/indonesiapustaka
120
120
http://facebook.com/indonesiapustaka
121
121
http://facebook.com/indonesiapustaka
122
122
http://facebook.com/indonesiapustaka
123
123
http://facebook.com/indonesiapustaka
124
124
http://facebook.com/indonesiapustaka
125
125
Ratih Kumala adalah penulis pro-
fesional yang saat ini bertempat ting-
gal di Jakarta. Tidak hanya buku,
tetapi juga menulis skenario untuk
foto: Yannie Sukarya
126
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka