Kelompok 4 Biologi Mia 1
Kelompok 4 Biologi Mia 1
Kelompok 4 Biologi Mia 1
OSTEOARTHRITIS
BIOLOGI
Kakak-kakak dari UNM yang telah membimbing kami dalam mata Kami
menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan.
Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat
dibutuhkan demi peningkatan makalah di masa yang akan datang.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Osteoarthritis merupakan penyakit tipe paling umum dari arthritis dan
dijumpai khusus pada orang lanjut usia atau disebut penyakit degeneratif.
Osteoarthritis merupakan penyakit persendian yang kasusnya paling umum
dijumpai di dunia (Bethesda, 2013). Berdasarkan National Centers for Health
Statistics, diperkirakan 15,8 juta (12%) orang dewasa antara usia 35 – 74
tahun mempunyai keluhan osteoarthritis (Anonim, 2011). Prevalensi dan
tingkah kaparahan osteoarthritis berbeda-beda antara rentang dan lanjut usia
(Hansen & Elliot, 2005).
Menurut World Health Organization (who) tahun 2004, diketahui bahwa
osteoarthritis diderita oleh 151 juta jiwa diseluruh dunia dan mencapai 24 jiwa
di kawasan Asia Tenggara. Osteoarthritis adalah penyakit kronis yang belum
diketahui secara pasti penyebabnya, akan tetapi ditandai dengan kehilangan
tulang rawan sendi secara bertingkat (Murray, 1996). Penyakit ini
menyebabkan nyeri dan disabilitas pada penderita sehingga mengganggu
aktivitas sehari-hari.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari Osteoarthritis?
2. Apa mekanisme kerja secara sederhana dari Osteoarthritis?
3. Apa saja golongan obat Osteoarthritis?
4. Apa contoh dari obat Osteoarthritis?
5. Apa indikasi dan efek samping dari obat Osteoarthritis?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari Osteoarthritis.
2. Untuk mengetahui mekanisme kerja secara sederhana dari Osteoarthritis.
3. Untuk mengetahui golongan obat Osteoarthritis.
4. Untuk mengetahui contoh obat Osteoarthritis.
5. Untuk mengetahui indikasi dan efek samping obat Osteoarthritis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN OSTEOARTHRITIS
1. Definisi
Osteoarthritis merupakan penyakit yang berkembang dengan lambat,
biasa mempengaruhi sendi diartrodial perofer dan rangka aksial. Penyakit
ini ditandai dengan kerusakan dan hilangnya kartilago artikukar yang
berakibat pada pembentukan osteofit, rasa sakit, pergerakan yang terbatas,
deformitas, dan ketidakmampuan. Inflamasi dapat terjadi atau tidak pada
sendi yang dipengaruhi (Elin dkk, 2008).
2. Epidemiologi
Insiden dan prevalensi osteoarthritis bervariasi pada masing-masing
negara, tetapi data pada berbagai negara menunjukkan bahwa athritis jenis
ini adalah yang paling banyak ditemui, terutama pada kelompok usia
dewasa dan lanjut usia. Prevalensinya meningkat sesuai pertambahan usia
(Bethesda, 2013).
Prevalensi meningkat dengan meningkatnya usia dan pada data
radiografi menunjukkan bahwa osteoarthritis terjadi pada sebagian besar
usia lebih dari 65 tahun, dan pada hampir setiap orang pada usia 75 tahun
(Hansen & Elliot, 2005). Osteoarthritis ditandai dengan terjadinya nyeri
pada sendi, terutamanya pada saat bergerak (Yang, 2008).
3. Patogenesis
Berdasarkan penyebabnya, osteoarthritis dibedakan menjadi dua yaitu
osteoarthritis primer dan osteoarthritis sekunder. Osetoarthritis primer atau
dapat disebut osteoarthritis idiopatik, yang tidak memilik penyebab yang
pasti (tidak diketahui) dan tidak disebabkan oleh penyakit sistematik
maupun proses perubahan lokal sendi. Osteoarthritis sekunder terjadi
disebabkan oleh inflamasi, kelainan sistem endokrin, metabolit,
pertumbuhan, faktor keturunan (herediter), dan imobilisasi yang terlalu
lama. Kasus osteoarthritis primer lebih sering dijumpai pada praktek sehari-
hari dibandingkan dengan osteoarthritis sekunder ( Soeroso dkk, 2006).
Selama ini osteoarthritis sering dipandang sebagai akibat dari proses
penuaan dan tidak dapat dihindari. Namun telah diketahui bahwa
osteoarthritis merupakan gangguan keseimbangan dari metabolise kartilago
dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum jelas diketahui
(Soeroso dkk, 2006). Kerusakan tersebut dapat diawali oleh kegagalan
mekanisme lain sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera (Felson,
2008).
Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi, yaitu
kapsula dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang
dasarnya. Kapsula dan ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada
rentang gerak (range of motion) sendi (Felson, 2008).
Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antara kertilago pada
permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat
gesekan. Protein yang disebut dengan lubrican merupakan protein pada
cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini akan berhenti
disekresikan apabila terjadi cidera dan peradangan pada sendi (Felson,
2008).
Ligamen, bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu
mekanoreseptor yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan
balik yang dikirimkan memungkinkan otot dan tendon mampu memberikan
tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi sedang bergerak
(Felson, 2008).
Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari
pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi
memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk
menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan tekanan
yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi
tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke
seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima.
Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang
diterima (Felson, 2008).
Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh
cairan sendi sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang
terjadi ketika bergerak. Kekakuan kartilago yang dapat 10 dimampatkan
berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang diterima sendi. Perubahan pada
sendi sebelum timbulnya osteoarthritis dapat terlihat pada kartilago
sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago (Felson,
2008).
Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu kolagen
tipe dua dan aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat, membatasi
molekul-molekul aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan
adalah molekul proteoglikan yang berikatan dengan asam hialuronat dan
memberikan kepadatan pada kartilago (Felson, 2008).
Kondrosit merupakan sel yang terdapat dijaringan vaskular,
menyintesis seluruh elemen yang terdapat pada matriks kartilago. Kondrosit
menghasilkan enzim pemecah matriks, yaitu sitokin [Interleukin-1 (IL-1),
Tumor Necrosis Factor (TNF)], dan juga faktor pertumbuhan. Umpan balik
yang diberikan enzim tersebut akan merangsang kondrosit untuk melakukan
sintesis dan membentuk molekul-molekul matriks yang baru. Pembentukan
dan pemecahan ini dijaga keseimbangannya oleh sitokin faktor
pertumbuhan, dan faktor lingkungan (Felson, 2008).
Kondrosit menyintesis mensintesis metalloproteinase matriks (MPM)
untuk memecah kolagen tipe dua dan aggrekan. MPM memiliki tempat
kerja di matriks yang dikelilingi oleh kondrosit. Namun pada fase awal
osteoarthritis, aktivitas serta efek dari MPM menyebar hingga ke bagian
permukaan dari kartilago (Felson, 2008).
Stimulasi dari sitokin terhadap cedera matriks adalah menstimulasi
pergantian matriks, namun stimulasi IL-1 yang berlebih malah memicu
proses degradasi matriks. TNF menginduksi kondrosit untuk menyintesis
prostaglandin (PG), oksida nitrit (NO), dan protein lainnya yang memiliki
efek terhadap sintesis dan degradasi matriks. TNF yang berlebihan
mempercepat proses pembentukan tersebut. NO yang dihasilkan akan
menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan proses pemecahan protein
pada jaringan. Hal ini berlangsung pada proses awal timbulnya
osteoarthritis (Felson, 2008).
Kartilago memiliki metabolisme yang lambat, dengan pergantian
matriks yang lambat dan keseimbangan yang teratur antara sintesis dengan
degradasi. Namun ada fase awal perkembangan osteoarthritis, kartilago
sendi memiliki metabolisme yang sangat aktif (Felson, 2008).
Pada proses timbulnya osteoarthritis, kondrosit yang terstimulasi akan
melepaskan aggrekan dan kolagen tipe dua yang tidak adekuat ke kartilago
dan cairan sendi. Aggrekan pada kartilago akan sering habis serta jalinan-
jalinan kolagen akan mudah mengendur. Kegagalan dari mekanisme
pertahanan oleh komponen pertahanan sendi akan meningkatkan kejadian
osteoarthritis pada daerah sendi (Felson, 2008).
4. Faktor Risiko
risiko terkena osteoarthritis juga dapat berubah dari waktu ke waktu
tergantung pada usia dan gaya hidup seseorang. Terdapat beberapa faktor
risiko yang dapat dilihat pada pasien osteoarthritis secara umum seperti
berikut : (Anonim, 2006) :
1). Usia
Prevalensi dan keparahan osteoarthritis meningkat sering dengan
bertambahnya usia seseorang. Semakin meningkat usia seseorang,
semakin bertambah rasa nyeri dan keluhan pada sendi.
2). Berat badan
Semakin tinggi berat badan seseorang, semakin besar kemungkinan
seseorang untuk menderita osteoarthritis. Hal ini adalah disebabkan
karena seiring dengan bertambahnya berat badan seseorang, beban yang
akan diterima oleh sendi pada tubuh makin besar. Beban yang diterima
oleh sendi akan memberikan tekanan pada bagian sendi yang
berpengaruh, contohnya pada bagian lutut dan pinggul.
3). Trauma
Trauma pada sendi atau penggunaan sendi secara berlebihan. Atlet dan
orang-orang yang memiliki pekerjaan yang memerlukan gerakan
berulang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena osteoarthritis
karena mengalami cidera dan peningkatan tekanan pada sendi tertentu.
Selain itu, terjadi juga pada sendi di mana tulang telah retak dan telah
dilakukan pembedahan.
4). Genetika
Genetika memainkan peranan dalam perkembangan osteoarthritis.
Kelainan warisan tulang mempengaruhi bentuk dan stabilitas sendi
dapat menyebabkan osteoarthritis. Nodus Herberden adalah 10 kali lebih
banyak terjadi pada wanita dibanding laki-laki, dengan risiko dua kali
lipat jika ibu kepada wanita itu mengalami osteoarthritis (Hansen &
Elliot, 2005). Nodus Herberden dan Nodus Bouchard terjadi pada
bagian sendi pada tangan.
5). Kelemahan pada otot
Kelemahan pada otot-otot sekeliling sendi dapat menyebabkan
terjadinya osteoarthritis. Kelemahan otot dapat berkurang disebabkan
oleh faktor usia, inaktivasi akibat nyeri atau karena adanya peradangan
pada sendi.
6). Nutrisi
Metabolisme normal dari tulang tergantung pada adanya vitamin D.
Kadar vitamin D yang rendah di jaringan dapat mengganggu
kemampuan tulang untuk merespons secara optimal proses terjadinya
osteoarthritis dan akan mempengaruhi perkembangannya. Kemungkinan
vitamin D mempunyai efek langsung terhadap kondrosit di kartilago
yang mengalami osteoarthritis, yang terbukti membentuk kembali
reseptor vitamin D.
5. Tanda – tanda dan gejala klinis
Gejala pada penyakit osteoarthritis bervariasi, tergantung pada sendi
yang terkena dan seberapa parah sendinya berpengaruh. Namun, gejala yang
paling umum adalah kekakuan, terutamanya terjadi pada pagi hari atau
setelah istirahat, dan nyeri. Sendi yang sering terkena adalah punggung
bawah, pinggul, lutut, dan kaki. Ketika terkena di daerah sendi tersebut akan
mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan seperti berjalan, menaiki
tangga, dan mengangkat suatu beban. Bagian lain yang sering terkena juga
adalah leher dan jari, termasuk pangkal ibu jari. Ketika bagian jari dan sendi
tangan terkena osteoarthritis dapat membuat keadaan bertambah sulit
terutama untuk memegang suatu objek untuk melakukan pekerjaan
(Anonim, 2006).
Pada umumnya, pasien osteoarthritis mengatakan bahwa keluhan-
keluhan yang dirasakan telah berlangsung lama, tetapi berkembang secara
perlahan. Berikut adalah keluhan yang dapat dijumpai pada pasien
osteoarthtitis :
1) Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama pasien. Nyeri biasanya
bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.
Beberapa gerakan yang tertentu terkadang dapat menimbulkan rasa
nyeri yang melebihi gerakan lain. Perubahan ini dapat ditemukan
meski osteoarthritis masih tergolong dini (secara radiologis) (Soeroso
dkk, 2006).
Kartilago tidak mengandung serabut saraf dan kehilangan
kartilago pada sendi tidak diikuti dengan timbulnya nyeri.
Sehingga dapat diasumsikan nyeri yang timbul pada osteoarthritis
berasal dari luar kartilago (Felson, 2008). Pada penelitian dengan
menggunakan MRI, didapat bahwa sumber dari nyeri yang timbul
diduga berasal dari peradangan sendi (sinovitis), efusi sendi, dan
edema sumsum tulang (Felson, 2008). Osteofit merupakan salah
satu penyebab dari timbulnya rasa nyeri. Ketika osteofit tumbuh,
terjadi proses inervasi neurovascular yang menembusi bagian dasar
tulang hingga ke bagian kartilago dan menuju ke osteofit yang
sedang berkembang. Hal ini yang menyebabkan timbulnya nyeri
(Felson, 2008).
Nyeri juga dapat timbul dari bagian luar sendi, termasuk pada bagian bursae
di dekat sendi. Sumber nyeri yang umum di lutut adalah akibat dari anserine bursitis
dan sindrom iliotibal band (Felson, 2008).
2) Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara perlahan
sejalan dengan pertumbuhan rasa nyeri (Soeroso dll, 2006)
3) Kaku pagi
Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah pasien berdiam diri atau
setelah tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di kursi
atau duduk di mobil dalam waktu yang cukup lama, bahkan setiap
bangun tidur pada pagi hari (Soeroso dkk, 2006).
4) Krepitasi
Krepitasi atau rasa gemeratak yang timbul pada sendi yang sakit.
Gejala ini umum dijumpai pada pasien osteoarthritis lutut. Pada
awalnya hanya berupa perasaan akan adanya sesuatu yang patah
atau remuk oleh pasien atau dokter yang memeriksa. Seiring
dengan perkembangan penyakit, krepitasi dapat terdengar hingga
jarak tertentu (Soeroso dkk, 2006).
5) Pembesaran sendi (deformitas)
Sendi yang terkena secara perlahan dapat membesar (Soeroso dkk,
2006).
6) Pembengkakan sendi yang asimetris
Pembengkakan sendi dapat timbul dikarenakan terjadi efusi pada
sendi yang biasanya tidak banyak (< 100 cc) atau karena adanya
osteofit, sehingga bentuk permukaan sendi berubah (Soeroso
dkk,2006).
7) Tanda – tanda peradangan
Tanda-tanda adanya peradangan pada sendi (nyeri tekan, gangguan
gerak, rasa hangat yang merata, dan warna kemerahan) dapat
dijumpai pada osteoarthritis karena adanya sinovitis. Biasanya
tanda-tanda ini tidak menonjol dan timbul pada perkembangan
penyakit yang lebih jauh. Gejala ini sering dijumpai pada
osteoarthritis lutut (Soeroso dkk, 2006).
8) Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang membebankan pasien dan
merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien
osteoarthritis, terutama pada pasien lanjut usia. Keadaan ini selalu
berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan
tertentu pada osteoarthritis lutut ( Soeroso dkk, 2006)
C. GOLONGAN OBAT
1. Terapi Farmakologi
Terapi obat osteoarthritis ditargetkan pada penghilang rasa sakit.
Karena osteoartritis sering terjadi pada individu lanjut usia yang memiliki
kondisi medis lainnya, diperlukan suatu pendekatan konsenvatif terhadap
pengobatan obat, antaranya (Elin dlkk, 2008) :
1). Golongan Analgetik
a). Golongan Analgetik Non Narkotik
(1). Asetaminofen (Analgetik oral)
Asetaminofen menghambat sintesis prostaglandin pada sistem
saraf pusat (SSP). Asetaminofen diindikasi pada pasien yang
mengalami nyeri ringan ke sedang dan juga pada pasien yang
demam. Obat yang sering digunakan sebagian lini pertama
adalah parasetamol.
(2). Kapsaisin (Analgetik Topikal)
Kapsaisin merupakan suatu estrak dari lada merah yang
menyebabkan pada dan pengosongan substansi P dari serabut
syaraf. Obat ini juga bermanfaat dalam menghilangkan rasa
sakit pada osteoarthritis jika digunakan secara topikal pada
sendi yang berpengaruh. Kapsaisin dapat digunakan sendiri
atau kombinasi dengan analgetik oral atau NSAID. Kapsaisin
ini diberikan dalam bentuk topikal, yaitu dioleskan pada
bagian nyeri sendi.
b). Golongan Analgetik Narkotik
analgetik narkotika dapat mengatasi rasa nyeri sedang sampai
berat Penggunaan dosis obat analgetik narkotika dapat berguna
untuk pasien yang tidak toleransi terhadap pengobatan
asetaminofen, NSAID, injeksi intra artikular atau terapi secara
topikal. Pemberian narkotika alagesik merupakan intervasi awal,
dan sering diberikan secara kombinasi bersama asetaminofen.
Pemberian narkotika ini harus diawasi karena dapat menyebabkan
ketergantungan.
Dosis Maksimum
Pengobatan Dosis dan Frekuensi
(mg/hari)
Analgesik oral
Asetaminofen 325-650 mg setiap 4-6jam atau 4000
1 g 3-4 kali/hari
Tramadol 50-100mg setiap 4-6jam 400
Analgetik topikal
Kapsaisin 0,025% atau 0,075% Dapat mempengaruhi sendi 3-4 -
kali/hari
Supelment nutrisi
Glukosamin sulfat 500 mg 3 kali/hari atau 1500 1500
mg sekali sehari
AntiinflamasiNon Steroid
(NSAID)
Asam karboksilat
Asam asetilasi
Aspirin 325-650 mg setiap 4-6 jam 3600
untuk nyeri
Dosis antiinflamasi dimuali
pada 3600 mg/hari dalam dosisi
terbagi.
Non asetil salisilat
Salsalat 500-1000 mg 2-3 kali perhari 3000
Difunisal 500-1000 mg 2 kali perhari 1500
Kolin salisilat 500-1000 mg 2-3 kali perhari 3000
Kolin magnesium salisilat 500-1000 mg 2-3 kali perhari 3000
Asam asetat
Etodolak 800-1200 mg/hari dalam dosis 1200
terbagi
Diklofenak 100-150 mg/hari dalam dosis 200
terbagi
Indometasin 25mg 2-3 kali/hari ; 75 mg SR 200 ; 150
sekali sehari
Ketorolak 10mg setiap 4-6 jam 40
Nabumeton 500-1000 mg 1-2 kali/hari 2000
Asam propionate
Fenoprofen 300-600 mg3-4 kali/hari 3200
Flubiprofen 200-300 mg/hari dalam 2-4 300
dosis terbagi
Ibupofen 1200-3200 mg/hari dalam 3-4 3200
dosis terbagi
Ketoprofen 150-300 mg/hari dalam 3-4 300
dosis terbagi
Naproxen 250-500 mg 2 kali sehari 1500
Sodium narpoxen 275-550 mg 2 kali sehari 1375
Oxaprozin 600-1200mg perhari 1800
Fenamat
Meklofenamat 200-400 mg/hari dalam 3-4 400
dosis terbagi
Asam mefenamat 250 mg tiap 6 jam 1000
Oksikam
Piroxicam 10-20mg perhari 20
Meloxicam 7,5 mg perhari 15
Coxibs
Celecoxib 100 mg 2 kali perhari atau 200 ; 400 untuk RA
200mg perhari
Valdecoxib 10mg perhari 10 ; 40 untuk nyeri
disminorae
2. Glukosamin
Glukosamin adalah supelmen makanan yang digunakan untuk meringankan
osteoarthritis, rematik, dan gangguan persendian. Suplemen ini adalah
senyawa monosakarida yang diproduksi dengan cara menghidrolisis
cangkang kerang, tulang hewan, sumsum talang, dan jamur.
Indikasi
Untuk meringankan osteoarthritis, reumatik, dan gangguan persendian
seperti nyeri sendi bengkak dan kekakuan yang disebabkan oleh arthritis.
Glukosamin bekerja dengan cara merangsang produksi proteoglikan dan
meningkatkan serapan sulfat oleh tulang rawan artikular.
Efek Samping
Berikut adalah efek samping glukosamin :
Efek samping ringan berupa gatal – gatal dan ketidaknyamanan
lambung, misalnya diare, mulas, mual, dan muntah.
Efek samping lain seperti dispepsia, konstipasi, sakit perut, jantung
berdebar, sakit perut dan sakit kepala.
Pasien yang memiliki penyakit hati kronis kondisinya dapat
memburuk setelah menggunakan suplemen ini. Namun efek
samping ini jarang terjadi.
Penggunaan dosis yang besar di;luar dosis yang dianjurkan dapat
merusak sel – sel pankreas.
3. Ketoprofen
Indikasi
Nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan gangguan otot skelet lainnya.
Nyeri setelah pembedahan orthopedi, gout akut dan dismenorea.
Efek Samping
Efek samping ketoprofen yang cukup ringan dan umum terjadi adalah :
Sakit perut, diare, sembelit, kembung.
Pusing, sakit kepala, gugup.
Gatal atau ruam kulit.
Mulut kering.
Banyak berkeringat, pilek.
Penglihatan kabur atau telinga berdenging.
Efek samping yang cukup serius antara lain :
Nyeri dada, lemas, masalah penglihatan atau keseimbangan.
BAB hitam, berdarah atau berwarna gelap, batuk darah, atau
muntah seperti kopi.
Bingung, tremor atau menggigil.
Lebih jarang atau tidak BAK.
Mual, nyeri perut, demam ringan, tidak nafsu makan, urin gelap,
kulit atau mata menguning.
Sakit tenggorokan, sakit kepala, ruam kulit merah.
Memar, kesemutan berat, baal, dan lemah otot.
4. Asam mefenamat
Indikasi
Untuk mengobati nyeri akut, misalnya nyeri pada sakit gigi atau rasa sakit
setelah trauma. Misalnya cidera otot, sendi, tulang, atau keseleo. Dapat
digunakan untuk mengobati nyeri haid.
Efek Samping
Sembelit, diare, perut kembung, mual, sakit perut.
Reaksi alergi yang parah seperti ruam, gatal – gatal, kesulitan
bernafas, pembengkakan mulut, wajah, bibir atau lidah.
Buang airaiirbesar berdarah
Nyeri dada, detak jantung tidak teratur.
5. Meloxicam
Indikasi
Untuk mengurangi rasa nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi. Meloxicam
sering digunakan untuk mengobati arthritis dan asam urat.
Efek Samping
Nyeri pada dada, letih, nafas pendek, bicara tidak jelas, masalah
penglihatan atau keseimbangan.
Feses berwarna gelap atau berdarah.
Mual atau nyeri pada perut bagian atas.
Ruam pada kulit atau memar.
Pusing, gugup, sakit kepala.
Diare, dan kembung.
6. Piroxicam
Indikasi
Piroxicam berfungsi untuk mengurangi rasa sakit, pembengkakan, dan
peradangan sendi akibat arthritis.
Efek Samping
Sensitivitas terhadap cahaya meningkat.
Demam, sakit kepala, leher kaku, menggigil.
Nyeri pada dada, letih, nafas pendek, bicara tidak jelas, masalah
penglihatan atau keseimbangan.
Feses berwarna gelap atau berdarah.
Mual atau nyeri pada perut bagian atas.
Ruam pada kulit atau memar.
Pusing, gugup, sakit kepala.
Diare, dan kembung.
7. Celecoxib
Indikasi
Fungsi utama Celecoxib adalah untuk mengobati peradangan dan
meredakan nyeri terutama pada kondisi berikut :
Peradangan sendi, misalnya pada penyakit osteoarthritis,
rheumatoidarthritis dan ankylosing spondylitis.
Nyeri sedang dan berat, misalnya pada perlukaan, peradangan, atau
saat haid.
Polip pada usus besar, misalnya pada penyakit familial adenomatous
polyposis.
Efek Samping
Sakit kepala, nyeri perut, mual.
Diare, muntah, sering buang angin.
Sulit tidur.
Pingsan, gagal jantung, gagal ginjal.
Nyeri dada, telinga berdenging, perdarahan.
Pandangan kabur, sensitivitas terhadap cahaya meningkat.
Berat badan naik.
Ulkus atau luka lambung atau usus halus.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Osteoarthritis merupakan penyakit yang berkembang dengan lambat,
biasa mempengaruhi sendi diartrodial perofer dan rangka aksial. Penyakit ini
ditandai dengan kerusakan dan hilangnya kartilago artikukar yang berakibat
pada pembentukan osteofit, rasa sakit, pergerakan yang terbatas, deformitas,
dan ketidakmampuan beraktivitas normal. Proses pembentukan osteoarthritis
yaitu fase inisiasi, fase inflamasi, fase nyeri, dan fase degradasi.
Penggolongan obat dapat berupa dengan terapi farmakologi, terapi non
farmakologi dan juga pembedahan.
B. SARAN
Dengan beberapa uraian tentang osteoarthritis, mekanisme kerja
osteoarthritis, golongan obat, contoh obat osteoarthritis, indikasi dan efek
samping dari obat osteoarthritis diharapkan dapat menambah wawasan bagi
pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Yang, I,K., Andrajati, R., Setiadi, A. P., Sigit, J.I., Sunandar, E.Y., dkk. 2008. ISO
Farmakoterapi. PT ISFI Penerbitan : Jakarta.