Makalah Manajemen Pasien Anak
Makalah Manajemen Pasien Anak
Makalah Manajemen Pasien Anak
Kelompok A8
Oleh
Azizarohaina D. (171610101067)
UNIVERSITAS JEMBER
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini, tentang MANAJEMEN PERILAKU PASIEN ANAK .
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh
karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. drg. Niken Probosari., M.Kes selaku dosen pengampu mata kuliah psikologi yang
telah membimbing dan telah memberikan masukan yang membantu, bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh
karena itu, kritik saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan-
perbaikan di masa mendatang demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
dapat berguna bagi kita semua.
Tim Penyusun
2
DAFTAR ISI
Kata Pengatar.............................................................................................................................2
Daftar isi.....................................................................................................................................3
BAB I. Pendahuluan
A. Latar belakang....................................................................................................................4
B. Rumusan masalah...............................................................................................................4
C. Tujuan.................................................................................................................................4
BAB III.
Kesimpulan.................................................................................................................9
Daftar Pustaka..........................................................................................................................10
3
BAB I
PENDAHULUAN
Indikator utama keberhasilan dari perawatan gigi anak adalah kemampuan dokter gigi
dalam memberikan perawatan gigi anak disertai dengan pengelolaan perilaku anak agar
perawatan gigi dapat dilakukan dengan baik dan menimbulkan kesan positif pada anak.
Merawat gigi anak berbeda dengan merawat gigi pasien dewasa, merawat gigi anak
membutuhkan strategi yang baik baik. Salah yang digunakan dalam perawatan gigi anak
adalah melibatkan komponen utama yaitu anak itu sendiri, orangtua, dokter gigi, dan
lingkungan/masyarakat.
Perawatan gigi anak juga harus disesuaikan dengan usia anak karena anak memiliki
tingkat kedewasaan, kepribadian, emosi yang berbeda setiap individunya sehingga respon
mereka terhadap perawatan gigi juga memiliki banyak variasi. Sebagai konsekuensinya,
dokter gigi harus memahami berbagai macam tingkah laku anak dalam perawatan gigi serta
teknik mengelola tingkah laku tersebut.
Tujuan dari manajemen perilaku adalah untuk menanamkan sikap positif pada pasien
anak yang cemas. Ini adalah cara dimana dokter gigi dapat secara efektif dan efisien
melakukan perawatan, dan mendorong seorang anak untuk memiliki minat dalam waktu
jangka panjang dalam meningkatkan kesehatan gigi dan pencegahan penyakit yang sedang
berlangsung. Oleh karena itu, manajemen perilaku merupakan keterampilan penting dan
harus diperoleh oleh semua dokter gigi yang merawat anak. Mengelola anak-anak yang
cemas bisa menjadi tantangan serta pengalaman berharga bagi semua orang yang
bersangkutan.
4
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
Kecemasan merupakan hal yang sering terjadi pada anak-anak dan salah
satunya dipengaruhi oleh faktor usia anak. Kecemasan dental dapat didefinisikan
sebagai rasa takut dengan perawatan gigi yang tidak selalu berhubungan dengan
rangsangan dari luar (Chadwick dan Hosey, 2003). Anak-anak yang berasal dari
keluarga dengan tingkat ekonomi rendah atau berasal dari keluarga dengan
lingkungan sosial yang kurang baik, umumnya akan lebih mudah mengalami
kecemasan. Contohnya anak yang berasal dari keluarga kelompok imigran. Penelitian
terbaru di Swedia melaporkan bahwa, diantara pasien yang dirujuk ke dokter gigi
anak, terdapat anak yang mengalami kesulitan dalam penerimaan perawatan (tidak
kooperatif) berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah, lingkungan sosial
yang buruk, dan keluarga dengan perceraian orang tua (Koch dan pulsen, 2009).
5
biasanya berusia muda dan anak dengan disabilitas spesifik tertentu yang merupakan
anak dengan tingkat kerjasama rendah (Gupta dkk., 2014).
Kecemasan pada anak akan semakin menjadi buruk diakibatkan sikap dari
orang sekitarnya (umumnya orang tua, saudara, dan teman sebaya) terhadap bidang
kedokteran gigi. Orang tua yang tidak dapat mengendalikan rasa cemas tanpa
disadari dapat diteruskan ke anak mereka atau menyebabkan kondisi semakin buruk
ketika sebenarnya orang tua berusaha untuk membantu. Bailey dkk (1973)
melaporkan bahwa terdapat hubungan antara kecemasan ibu dan menajemen
perawatan pada anak di seluruh kategori usia, khususnya usia ≤4 tahun (Gupta dkk.,
2014). Beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh kehadiran orang tua
adalah membingungkan komunikasi, mempengaruhi sikap anak, membicarakan
aspek negatif perawatan gigi saat anak mendengarkan dan mengancam anak dengan
perawatan gigi (Chadwick dan Hosey, 2003). Salah satu satu cara yang dapat
digunakan menurunkan rasa takut orang tua dan dapat membantu para orang tua
untuk persiapan kunjungan ke dokter gigi adalah dengan mengirimkan orang tua
surat pendahuluan yang menjelaskan mengenai hal yang diperlukan untuk
kunjungan pertama kali ke dokter gigi. Surat ini sangat berguna khususnya sebagai
masukan kepada orang tua mengenai bagaimana cara menyiapkan anak untuk
kunjungan pertama kali ke dokter gigi (Gupta dkk., 2014).
Duduk di dental chair menimbulkan rasa tidak berdaya pada anak, selain itu
keterbatasan komunikasi dengan dokter gigi juga menyebabkan pasien merasa tidak
berdaya, ini disebabkan oleh rongga mulut yang terisi penuh dengan instrumen gigi
menyebabkan rasa tidak berdaya pada pasien (Chadwick dan Hosey, 2003).
6
Anak yang mempunyai pengalaman buruk, terhadap kunjungan terakhir ke
rumah sakit atau perawatan medis yang diterima, atau kunjungan ke dokter gigi,
akan lebih cemas terhadap perawatan gigi dan berhati-hati membangun hubungan
kepercayaan dengan dokter gigi (Gupta, 2012; Roberts, 2010). Ketika anamnesis
mengenai riwayat medis, sangat penting untuk menanyakan kepada orang tua
mengenai perawatan terakhir yang diterima dan bagaimana respon anak terhadap
perawatan tersebut. Hal ini mungkin dapat mengidentifikasi timbulnya kecemasan
yang berhubungan dengan kebiasaan dan memungkinkan dokter gigi untuk
menggunakan strategi yang tepat untuk mengoreksi kebiasaan anak (Gupta, 2014).
Anak yang mendapat banyak perhatian dari orang tuanya saat anak tersebut
menangis akan lebih mungkin menangis saat kunjungan berikutnya (Robert, 2010).
Ekspresi wajah dokter gigi dapat menambah kesan atau bahkan dapat
mengganggu komunikasi verbal (misalnya: perasaan seperti disbelief atau
ketidakpercayaan, mencela, tidak suka, terkejut) dapat terlihat dari ekspresi wajah
yang ditunjukkan oleh dokter gigi. Senyum adalah sarana yang sangat baik dan
dapat menunjukkan sikap untuk memotivasi pasien. Ketika dokter gigi memakai
masker, meskipun wajahnya tidak terlihat, tetap berusaha untuk bersikap ramah
kepada pasien sehingga pasien dapat melihat ‘senyum’ dokter gigi meskipun
tertutup oleh masker (Chadwick dan Hosey, 2003).Dokter gigi dengan kontak mata
yang kurang kemungkinan akan mengurangi tingkat kepercayaan pasien pada dokter
gigi. Gerak gerik dan postur tubuh dari dokter gigi juga dapat mempengaruhi
kecemasan anak. Sikap menyilangkan lengan saat berbicara dapat menunjukkan
sikap seolah-olah mencela pasien, terutama jika dilakukan dengan mengetukkan
kaki ke lantai. Dokter gigi dapat menunjukkan tingkah lakunya untuk mengatasi
atau meningkatkan kecemasan anak. Tindakan dokter gigi dalam merespon tingkah
laku anak seperti menanyakan apa yang mereka rasakan (empati) dan menekan
dengan lembut bahu atau tangan dapat mengurangi tingkat kecemasan pada pasien
usia muda dan memperbaiki tingkah laku mereka saat duduk di dental chair.
Sementara sikap dokter gigi yang memaksa atau membujuk akan memperburuk
tingkah laku anak. Sikap kontraproduktif harus dihindari, misalnya memberi
penghiburan secara verbal seperti “ini tidak akan sakit” akan memungkinkan anak
7
untuk berpikir sebaliknya. Mengatakan bahwa “tidak ada yang perlu dikhawatirkan”
malah akan membuat anak khawatir (Chadwick dan Hosey, 2003).
Pemandangan yang asing, suara, dan bau dari perawatan gigi berkontribusi
menimbulkan kecemasan pada anak. Tindakan bedah dan ruang tunggu pasien harus
dibuat ramah untuk anak dan tidak membuat anak merasa terancam dengan cara
mendekorasi ruangan dengan gambar berorientasi anak-anak dan meletakkan
beberapa mainan yang ditempatkan secara strategis (misalnya, children's corner).
Ventilasi yang baik dapat meminimalkan bau yang berhubungan dengan kedokteran
gigi yang ditimbulkan oleh bahan atau alat kedokteran gigi. Penggunaan instrumen
getaran yang rendah juga dapat membantu menurunkan kecemasan anak (Gupta,
2014).
Staf penerima pasien dan tim kedokteran gigi, harus ramah dan bersahabat.
Komunikasi verbal dan non-verbal memiliki peran utama dalam manajemen
perilaku. Tim kedokteran gigi harus membentuk hubungan berdasarkan kepercayaan
dengan anak dan orang dewasa yang menyertainya untuk memastikan kepatuhan
terhadap pencegahan dan ijin untuk melakukan tindakan. Komunikasi non-verbal
terjadi sepanjang waktu dan kadang-kadang dapat bertentangan dengan komunikasi
verbal. Bagi pasien anak dan pasien yang pre kooperatif, komunikasi non-verbal
memiliki peran yang paling penting (Gupta, 2014). Pasien mungkin tidak mengerti
kata yang di gunakan, tetapi mereka akan mengenali senyum dan menanggapi nada
suara. Seperti tersenyum, komunikasi non verbal juga termasuk menjaga kontak
mata untuk membangun kepercayaan. Jabat tangan dapat meningkatkan
kepercayaan untuk beberapa orang tua. Sikap tenang, peduli, dan empati lebih
berhasil dalam menangani kecemasan anak. Anak-anak harus menjadi pusat
perhatian, seperti menyapa nama mereka (Gupta, 2014). Komunikasi harus
disesuaikan dengan usia anak dan tim kedokteran gigi perlu mengembangkan kosa
kata spesifik untuk komunikasi dengan anak-anak. Contohnya seperti “jus
mengantuk” untuk anestesi lokal, atau “mewarnai gigi” untuk fissure sealant.
Penjelasan harus diberikan dalam bahasa sederhana dan tidak mengancam, serta
hindari penggunaan jargon. Perlu komunikasi yang baik dan melibatkan anak,
8
dokter gigi,orang tua, dan perawat gigi. Namun, anak mungkin hanya bisa
berkonsentrasi pada satu orang dalam satu waktu. Ketika terjadi masalah, orang tua
atau pengasuh sering membuat keadaan lebih buruk dengan komunikasi yang
kurang sesuai antara anak dan orang tua atau pengasuh. Setiap anggota dalam tim
kedokteran gigi dan orang tua yang menemani harus mengerti peran mereka dalam
perawatan gigi yang dilakukan. Jika dokter gigi memperbolehkan orang tua atau
wali menemani anak saat operasi, dokter gigi harus memastikan mereka telah
memberikan penjelasan kepada orang tua atau wali apa yang harus dibantu dan apa
yang dokter gigi inginkan maupun yang tidak diinginkan dan apa yang dokter gigi
ingin orang tua lakukan dan katakan (Gupta, 2014).
9
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Chadwick, B.L. dan Hosey, M.T., 2003, Child Taming : How To Manage in Dental Prectice,
1st ed., Quintessence Publishing Co. Ltd., London, hal.9-11, 19-20, 27-28.
Gupta, A., dkk., 2014, Behaviour management of an anxious child, Stomatologija, Baltic
Dental and Maxillofacial Journal; Vol. 16, No 1.
Koch, G., dan Poulsen, S., 2009, Pediatric dentistry : a clinical approach, 2nd ed, Blackwell
Publishing Ltd United Kingdom, hal. 33.
10