MODEL KOMUNIKASI
Yang dimaksud model komunikasi adalah gambaran yang sederhana dari proses
komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan
komponen lainnya.
1.
Model Lasswell
Salah satu model komunikasi yang tua tetapi masih digunakan orang untuk
tujuan tertentu adalah model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell (
Forsdale 1981 ), seorang ahli ilmu politik dari Yale University. Dia menggunakan
lima pertanyaan yang perlu di tanyakan dan di jawab dalam melihat proses
komunikasi, yaitu who ( siapa ), says what ( mengatakan apa ), in which medium
atau dalam media apa , to whom atau kepada siapa, dan dengan what effect atau
apa efeknya.
Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Lasswell ini akan kelihatan bahwa
yang dimaksud dengan pertanyaan who tersebut adalah menunjuk kepada siapa
orang yang mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi. Yang memulai
komunikasi ini dapat berupa seseorang dan dapat juga sekelompok orang seperti
organisasi stsu persatuan.
Gambar 1 . Model komunikasi lasswell ( ruben , 1988 )
Pertanyaan kedua adalah says what atau apa yang dikatakan. Pertanyaan ini
adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dlam
komunikasi tersebut.
Pertanyaan ketiga adalah to whom. Pertanyaan ini maksudnya menanyakan
siapa yang menjadi audience atau penerima dari komunikasi.
Pertanyaan keempat adalah through what atau melalui media apa. Yang
dimaksudkan dengan media adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan
badan, kontak mata, sentuhan, radio, televisi, surat, buku, dan gambar. Yang perlu
diperhatikan dalam hal ini adalah tidak semua media cocok untuk maksud tertentu.
Pertanyaan terakhir dari model Lasswell ini adalah what effect atau apa
efeknya dari komunikasi tersebut. Pertanyaan mengenai efek komunikasi ini dapat
menanyakan 2 hal yaitu apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut
dan kedua, apa yang dilakukan orang sebagai hasildari komunikasi. Akan tetapi
perlu diingat, bahwa kadang-kadang tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan
oleh faktor hasil komunikasi tetapi juga dipengaruhi factor lain.
2.
Model Shannon
Model komunikasi lain yang banyak digunakan adalah model komunikasi dari
Claude Shannon atau lebih dikenal dengan model Shannon Wever. Model ini
berbeda dengan model Lasswell mengenai istilah yang digunakan bagi masingmasing komponen seperti dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Model komunikasi shannon dan wever ( forsdale, 1981 )
a. Informasi ( Information Source )
Dalam komunikasi manusia menjadi sumber informasi adalah otak. Pada otak ini
terdapat kemungkinan message / pesan yang tidak terbatas jumlahnya. Tugas
utama dari otak adalah menghasilkan suatu pesan atau suatu set kecil pesan dari
berjuta-juta pesan yang ada.
b. Transmitter
Langkah kedua dari model Shannon adalah memilih transmitter. Pemilihan
transmitter ini tergantung pada jenis komunikasi yang digunakan. Kita dapat
membedakan dua macam komunikasi yaitu komunikasi tatap muka dan
komunikasi mesin.
Pada komunikasi tatap muka yang menjadi transmitternya adalah alat-alat
pembentuk suara dan dihubungkan dengan otot-otot serta organ tubuh lainnya
yang terlibat dalam penggunaan bahasa nonverbal , sedangkan pada komunikasi
yang menggunakan mesin-mesin alat komunikasi yang berfungsi sebagai
transmitter adalah alat itu sendiri seperti, telepon, radio, televisi, foto, dan film.
c. Penyandingan (Encoding ) Pesan
Penyandingan ( encoding ) pesan diperlukan untuk mengubah ide dalam otak
kedalam suatu sandi yang cocok dengan Transmitter. Dalam komunikasi tatap
muka signal yang cocok dengan alat-alat suara adalah berbicara. Signal yang
cocok dengan otot-otot tubuh dan indera adalah anggukan kepala, sentuhan dan
kontak mata.
Pada komunikasi yang menggunakan mesin, di mana alat-alat yang digunakan
sebagai perluasan dari indera, penyandian pesan juga berasal dari tubuh tetapi
diperluas melalui jarak jauh dengan transmitter. Misalnya radio adalah perluasan
dari suara manusia, televisi perluasan dari mata dan begitu juga dengan alat
komunikasi lainnya.
d. Penerima dan Decoding
Istilah Shannon mengenai penerima dan decoding atau penginterpretasian pesan
seperti berlawanan dengan istilah penyandian pesan. Pada komunikasi tatap
muka kemungkinan transmitter menyandikan pesan dengan menggunakan alatalat suara dan otot-otot tubuh. Penerima dalam hal ini adalah alat-alat tubuh
yang sederhana yang sanggup mengamati signal. Misalnya telinga menerima dan
menguraikan sandi pembicaraan, mata menerima dan menguraikan sandi
gerakan badan dan kepala, kilatan mata dan signal lainnya yang dapat dilihat
mata. Jelaslah jika seorang individu pada komunikasi tatap muka kekurangan
satu atau lebih organ tubuh maka penerimaan pesan akan menjadi macet.
e. Tujuan (Destination)
Komponen terakhir dari Shanon adalah destination (tujuan) yang dimaksud oleh
si komunikator. Destination ini adalah otak manusia yang menerima pesan yang
berisi bermacam-macam hal, ingatan atau pemikiran mengenai kemungkinan
dari arti pesan. Penerima pesan telah menerima signal mungkin melalui
pendengaran, penglihatan, penciuman dan sebagainya kemudian signal itu
diuraikan dan diinterpretasikan dalam otak.
f. Sumber Gangguan (Noise)
Dalam model komunikasi Shannon ini terlihat adanya faktor sumber gangguan
pada waktu memindahkan signal dari transmitter kepada si penerima. Misalnya
pada waktu anda berbicara dengan teman di jalan kedengarannya suara mobil
lewat anak-anak berteriak yang semuanya itu mengganggu pembicaraan anda
sesaat dan gangguan itu dinamakan noise.
Gangguan ini selalu ada dalam tiap-tiap komunikasi. Oleh sebab itu kita harus
siap menetralkan gangguan dan tidak terkejut dengan kehadirannya. Untuk
menetralkan gangguan ini Shannon mengemukakan empat cara seperti berikut :
Menambah kekuatan ( power ) dari signal. Misalnya kalau kita
berbicara dengan seseorang di jalan yang suasananya hiruk pikuk,
kita perlu memperkeras suara kita dalam berbicara supaya tidak
diteln suara hiruk pikuk dan agar dapat didengar oleh lawan kita
berbicara.
Mengarahkan signal dengan persis. Seperti halnya dalam
pembicaraan diatas, taktik lain yang bisa dipakai untuk mengatasi
gangguan adalah berbicara dekat sekali dengan lawan berbicara
sehingga suara kita itu dapat menetralkan gangguan suara lain.
Menggunakan signal lain. Sebagai tambahan terhadap dasar
pertama, dapat digunakan taktik lain untuk menetralisir gangguan
yaitu dengan memperkuat pesan dengan signal lain misalnya,
dengan gerakan kepala, gerakan badan, sentuhan, dan sebagainya.
3.
Redudansi. Redudansi dalam situasi yang normal kurang baik
digunakan., tetapi dalam suasana yang hiruk pikuk pengulangan
kata-kata kunci dalam pembicaraan perlu dilakukan untuk
membantu memperjelas pesn yang disampaikan.
Model Schraumn
Wilbur Schraumn memberikan model proses komunikasi yang agak berbeda sedikit
dengan dua model sebelumnya. Dia memperlihatkan pentingnya peranan
pengalaman dalam proses komunikasi. Bidang pengalaman akan menentukan
apakah pesan dikirimkan diterima oleh sipenerima sesuai dengan apa yang
dimaksudkan oleh sipengirim pesan. Schraumn mengatakan jika tidak ada
kesamaan dalam bidang pengalaman, bahasa yang sama, latar belakang yang sama,
kebudayaan yang sama, maka sedikit kemungkinan pesan yang diterima
diinterpretasikan dengan benar.
GAMBAR 3. Model Komunikasi Schraumn yang satu Arah ( Ruben, 1988 )
Model ini sama dengan model-model sebelumnya yaitu memperlihatkan proses
komunikasi yang satu arah dan tidak dua arah. Oleh karena Schraumn menyadari
pentingnya balikan dalam komunikasi, akhirnya menyempurnakan model ini
menjadi model dua arah. Balikan adalah penting dalam proses komunikasi karena
akan menceritakan kepada kita bagaimana pesan yang dikirimkan diinterpretasikan
oleh yang menerima pesan. Bila penerima pesan memberikan balikan kepada si
pengirim maka si penerima berubah menjadi si pengirim atau sumber sehingga
komunikasi tidak satu arah lagi tetapi satu lingkaran. Seorang individu dapat
dipandang sebagai pengirim atau penerima pesan.
GAMBAR 4. Model Komunikasi Schraumn yang berbentuk Sirkuler ( Ruben, 1988 )
4.
Model Berlo
Model-model komunikasi makin hari makin dikembangkan di antaranya yang paling
terkenal model yangf dikembangkan oleh David Berlo pada tahun 1960. Modelnya
hanya memperlihatkan proses komunikasi satu arah dan hanya terdiri dari empat
komponen yaitu sumber, pesan, saluran dan penerima atau receiver. Akan tetapi
pada masing-masing komponen tersebut ada sejumlah faktor kontrol.
Faktor ketrampilan, sikap, pengetahuan, kebudayaan, dan sistem social dari sumber
atau orang yang mengirim pesan merupakan factor penting dalam menentukan isi
pesan, perlakuan atau treatment dan penyandian pesan. Faktor-faktor ini juga
berpengaruh kepada penerima pesan dalam menginterpretasikan isi pesan yang
dikirimkan. Saluran yang dapat digunakan dalam komunikasi adalah penglihatan,
pendengaran, penciuman, perasaan, dan alat peraba.
Model komunikasi Berlo di samping menekankan ide bahwa meaning are in the
people atau arti pesan yang dikirimkan pada orang yang menerima pesan bukan
pada kata-kata pesan itu sendiri .Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa
interpretasi pesan terutama tergantung kepada arti dari kata atau pesan yang di
tafsirkan oleh si pengirim atau si penerima pesan.
GAMBAR 5. Model Komunikasi Berlo ( Ruben, 1988 )
5.
Model Seiler
William J. Seiler (1988) memberikan model komunikasi dua arah dan bersifat lebih
universal. Model tersebut adalah seperti terdapat pada gambar 6.
GAMBAR 6. Model Komunikasi Dua arah ( Seiler, 1988)