Aktualisasi PAI Pada Sekolah
Aktualisasi PAI Pada Sekolah
Aktualisasi PAI Pada Sekolah
Disusun Oleh .
Diki Wiranda
Novi Dwi Yanti
Khilyatus Sa’dina
2024
KATA PENGANTAR
PENYUSUN
i
DAFTAR ISI
A. Kesimpulan...................................................................................... 15
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Masalah
2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Aktualisasi
Aktualisasi berasal dari kata actual yang berarti benar-benar ada.
Yang kemudian mendapat tambahan -isasi menjadi aktualisasi dan berarti
mengaktualkan.Aktualisasi berarti sebuah cara, proses (Dahlan, 2001).
Sedangkan disini kata aktualisasi bergandengan dengan PAI. Jadi, yang
dimaksudkan disini ialah bagaimana membuat PAI benar-benar ada, benar-
benar diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana agar peserta
didik mampu mengarah kepada aspek being tidak hanya mengarah pada aspek
knowing dan doing saja (Muhaimin, 2009).
2. Pengertian Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku
pendidikan. ( Soekidjo Notoatmojo. 2003).
Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman
belajar yang berlangsung dalam lingkungan dan sepanjang hidup.
Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan individu.( Redja Mudyahardjo. 2012).
Pendidikan dalam arti makro (luas) adalah proses interaksi antara
manusia sebagai individu atau pribadi dan lingkungan alam semesta,
lingkungan sosial, masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-
budaya. Pendidikan dalam arti luas juga dapat diartikan hidup segala
pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan
sepanjang hidup. Segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan
individu, suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil
interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik,
3
berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. (Purwanto. 2004 )
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara.
3. Pengertian Agama Islam
Agama merupakan suatu ciri kehidupan sosial manusia yang
universal, dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara
berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut
“agama“ (religious).
Islam adalah agama terakhir, agama keseimbangan dunia akhirat,
agama yang tidak mempertentangkan iman dan ilmu, bahkan menurut
sunnah Rasulullah, agama yang mewajibkan manusia baik pria maupun
wanita. Allah SWT telah mewahyukan agama ini dalam nilai
kesempurnaan yang tinggi, kesempurnaan yang mana meliputi segi-segi
fundamental tentang duniawi dan ukhrowi guna menghantarkan manusia
kepada kebahagiaan lahir dan batin serta dunia dan akhirat. Setiap
manusia pasti ada dorongan untuk beragama. Dorongan beragama
merupakan dorongan psikis yang mempunyai landasan alamiah, dalam
watak kejadian manusia dalam relung jiwanya, manusia merasakan
adanya suatu dorongan yang mendorong untuk mencari dan memikirkan
Sang Pencipta
4. Pendidikan Akulturasi Agama Islam
Dari ketiga pengertian diatas bisa diambil satu poin penting bahwa
pendidikan Akulturasi agama Islam adalah sebuah proses atau tata cara
yang di terapkan di dalam sekolah atau madrasah dengan menekankan
ideologi pendidikan agama islam sebagai pokok pemahaman. Nilai-nilai
yang terdapat dalam agama islam apabila dikolaborasikan dengan
pendidikan formal akan sangat efektif terlebih di era sekarang yang serba
modern namun minim akan akhlak akan teratasi dengan adannya
4
penerapan metode pembelajaran agama islam.
B. Sebab-sebab Adanya Aktualisasi PAI
Manusia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang memiliki potensi yang
berbeda-beda sejak lahir. Namun sudah dibekali keyakinan beragama sejak
masih dalam kandungan. Sebab, ketika masih menjadi roh, mereka meyakini
bahwa tuhan mereka adalah Allah SWT. Tetapi dilahirkan dengan kondisi yang
berbeda-beda sesuai dengan leluhur mereka.
Untuk mewujudkan perihal perkembangan anak dalam pendidikan, maka
dibutuhkan peran seorang pendidik. Pendidik disini merupakan seseorang yang
menjadi pelaku yang mampu melakukan perubahan bagi anak, baik dalam hal
afektif, kognitif, maupun psikomotorik.
2. doing, yakni agar para peserta didik dapat mempraktikkan ajaran dan
nilai-nilai agama; dan
3. being, yakni agar peserta didik dapat menjalankan hidup sesuai dengan
ajaran dan nilai-nilai agama
Tiga dari pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa Pendidikan Agama
Islam bermaksud agar peserta didik mengetahui, memahami, menghayati dan
mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai agama Islam sehingga pada akhirnya
mereka dapat menjalani berbagai kegiatan dalam kehidupannya berdasarkan
ajaran dan nilai-nilai Islam yang diyakininya.
Aktualisasi dilakukan dalam rangka merespons tantangan dunia
pendidikan. yang menyebabkan adanya aktualisasi PAI dimadrasah adalah
adanya indikator-indikator kelemahan yang melekat pada pelaksanaan
pendidikan agama islam dimadrasah. Antara lain adalah :
5
1. PAI kurang bisa mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan
yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik. Dengan kata lain,
pendidikan agama islam selama ini lebih menekankan pada aspek
knowing dan doing. Belum banyak mengarah kepada aspek being,
yakni bagaimana peserta didik menjalani hidup sesuai dengan ajaran
dan nilai-nilai agama yang sudah diketahui (knowing). Padahal inti dari
sebuah pendidikan agama berada pada aspek ini.
2. PAI kurang dapat berjalan bersama dan bekerja sama dengan program-
program pendidikan nonagama. Pendidikan Agama Islam yang
berlangsung selama ini lebih banyak bersikap menyendiri, kurang
berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya. Cara kerja
seperti ini kurang efektif untuk keperluan peneneman suatu perangkat
nilai yang kompleks. Karena itu, para guru/pendidik harus bekerjasama
dengan guru-guru non agama dalam pekerjaan mereka sehari-hari
(Baharun, 2017).
6
dengan banyaknya siswa yang belum memenuhi target pencapaian kriteria
ketuntasan minimal (KKM).
Tantangan yang berkaitan dengan ketidak siapan lembaga pendidikan
Islam di beberapa daerah dalam mengadakan berbagai renovasi-renovasi pada
aspek kurikulum yang dipergunakan dalam peningkatan mutu dan kualitas
lembaga pendidikan itu. Lemahnya sebuah upaya renovasi tersebut sebagai
dampak dari sentralisasi pendidikan yang berlangsung pada masa dahulu,
sehingga menyebabkan ketergantungan yang tinggi kepada pusat, yang pada
akhirnya menumbuhkan ketakutan dan kekhawatiran dalam penyusunan
kurikulum yang dapat mengapresiasikan terhadap berbagai kepentingan social,
budaya daerah. Akibatnya kurikulum yang ada pada lembaga pendidikan Islam
dibeberapa daerah tetap seperti dulu tanpa ada pengayaan kurikulum baru,
sehingga tidak mengapresiasikan tuntutan kebutahan masyarakat di sekitar
lembaga pendidikan tersebut. Akibatnya, arah pendidikan yang dilaksanakan
tidak sesuai apa yang menjadi harapan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Kurikulum sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan
akan direncanakan mempunyai komponen-komponen pokok :
1. Tujuan
2. Materi
7
Pembelajaran Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar
tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah
dikemukakan bahwa pengembangan kurikulum 40 yang didasari filsafat
klasik penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam
hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam
bentuk: teori, konsep, generalisasi, prinsip, prosedur, fakta, istilah,
contoh/ilustrasi, definisi dan preposisi. (Lismina,2017: 14-15)
3. Strategi
Komponen strategi berhubungan tentang bagaimana kurikulum itu
dilaksanakan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian program
pendidikan masih dalam taraf niat harapan/rencana yang harus
diwujudkan secara nyata di sekolah sehingga mempengaruhi dan
mengantarkan anak didik kepada tujuan pendidikan. Oleh sebab itu
komponen strategi pelaksanaannya memegang peranan penting.
Bagaimanapun baiknya kurikulum sebagai rencana, tanpa dapat
diwujudkan pelaksanaannya tidak akan membawa hasil yang diharapkan.
Ada beberapa unsur dalam strategi pelaksanaan kurikulum, yakni: tingkat
dan jenjang pendidikan, proses belajar mengajar, bimbingan penyuluhan,
administrasi supervisi, sarana kurikuler, dan evaluasi atau penilaian
(Lismina, 2017: 19).
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian
terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan 41 untuk memeriksa tingkat
ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui
kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih
luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja
kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator
kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun
juga relevansi, efisiensi, kelayakan (fiesibility) program.
Kurikulum merupakan inti dari berjalannya pembelajaran, mulai dari
8
tujuan dan konsep pembelajaran yang akan berlangsung. Kurikulum juga
mengalami perubahan. Sebab, dalam dunia pendidikan proses belajar mengajar
juga mengalami inovasi dan perkembangan yang pesat sehingga mempengaruhi
perubahan kurikulum yang lebih baik pada era sekarang.
9
terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Aspek
yang keempat ialah aspek fiqih menekankan pada kemampuan cara
melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Aspek tarikh
dan kebudayaan islam menekankan pada kemampuan mengambil
ibrah/hikmah dari peristiwa-peristiwa bersejarah islam, meneladani
tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkan dengan fenomena sosial,
budaya, politik, ekonomi, iptek, dan lain-lain untuk mengembangkan
kebudayaan dan peradaban islam.
Kelima aspek PAI tersebut dapat ditanamkan kepada peserta didik
melalui pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, yang
intinya selalu mengaitkan pembelajaran PAI dengan konteks dan
pengalaman-pengalaman hidup peserta didik yang beraneka ragam atau
konteks masalah-masalah serta situasi-situasi riil kehidupannya. Melalui
pendekatan pembelajaran PAI berbasis kontekstual dan proses pembinaan
secara berkelanjutan mulai dari proses moral knowing, moral feeling,
hingga moral action diharapkan berbagai potensi peserta didik dapat
berkembang secara optimal baik, baik pada aspek kesehatan jasmani
maupun kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan social
serta kecerdasan spiritualnya. Kesehatan jasmani ialah menyangkut
tentang sehat secara medis, tahan cuaca, tahan bekerja sama dantumbuh
dari rezeki yang halal.
Kecerdasan intelektual ialah berkenaan dengan cerdas, pintar,
kemampuan membedakan yang dan yang buruk, benar dan salah, serta
kemampuan menentukan prioritas atau mana yang lebih bermanfaat.
Sedangkan kecerdasan emosional adalah hal yang menyangkut
kemampuan mengendalikan emosi, mengerti perasaan orang lain, senang
bekerja sama, menunda kepuasan sesaat, dan memiliki kepribadian yang
stabil. Adapun kecerdasan sosial ialah menyangkut senang
berkomunikasi, senang menolong, senang berteman, gemar membuat
orang lain merasa senang, dan senang bekera sama. Kecerdasan spiritual
adalah menyangkut kemampuan merasa selalu diawasi Allah (iman),
10
gemar berbuat karena Allah SWT., disiplin dalam beribadah mahdlah,
sabar berikhtiar, pandai bersyukur dan berterima kasih. Untuk
mengimplementasikan pendekatan kontekstual tersebut diperlukan
beberapa modal dasar, yaitu :
a. Perlunya pendekatan filsafat
Mengutip pendapat fazlur Rahman dalam rekonstruksi
pendidikan islam yang mengatakan bagaimanapun filsafat adalah
alat intelektual yang terus menerus diperlukan. Untuk itu ia harus
berkembang secara alamiah baik untuk kepentingan
pengembangan filsafat itu sendiri maupun utnuk kepentingan
pengembangan disiplin-disiplin keilmuan yang lain. Hal demikian
dapat dipahami karena filsafat menanamkan kebiasaan dan melatih
akal pikiran untukbersikap kritis analitis dan mampu melahirkan
ide-ide segar yang sangat diperlukan, dengan demikian ia menjadi
alat intelektual yang sangat penting untuk ilmu-ilmu yang lain,
tidak terkecuali agama dan teologi.
Oleh karenanya orang yang menjauhi filsafat dapat
dipastikan akan mengalami kekurangan energi dan kelesuan darah
dalam arti kekurangan ide-ide segar,dan lebih dari itu ia telah
melakukan bunuh diri intelektual. Dapat disimpulkan bahwa orang
yang meninggalkan dan mengabaikan filsafat dalam memahami
teks-teks agama, maka ia akan kehilangan ide-ide segar yang actual
dan kontekstual. Oleh karena itu pendekatan filsafat sangat
diperlukan bagi orang yang ingin mengembangkan pemahamn
teksteks agama secara kontekstual
b. Perlu memahami dan bersedia menerima beberapa pola pikir
keagamaan
Pola pikir keagamaan dalam hal hubungan antara
makna dengan lafadz atau bentuk teks itu terdapat tiga aliran.
Pertama, monisme aliran yang mengatakan bahwa antara
makna dengan lafadz merupakan satu kesatuanyang tak
terpisahkan. Seperti seseorang memahami ayat “Wa as-sariqu
11
wa as-sariqatu faqtha'u aydiyahuma” yakni pencuri laki-laki
dan pencuri perempuan maka hendaklah dipotong tangannya.
Jadi setiap pencuri baik laki-laki maupun perempuan yang
teah mencapai ukuran tertentu maka harus diberi hukuman
potongan tangan. Hal ini difahami dari lafadz “faqtha'u
aydiyahuma”, yang antara makna dan dengan lafadz
merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.
Aliran kedua ialah dualisme yang mengatakan bahwa antara
makna dengan lafad dapat dipisahkan, dalam arti masing-masing
punya eksistensi tersendiri, meskipun ada hubungan tetapi hubungan
tetapi hubungan itu tidak terlalu kompleks. Menurut aliran ini ayat
“Wa as-sariqu wa as-sariqatu faqtha'u aydiyahuma” tidak harus
difahami bahwa setiap pencuri (laki-laki atau perempuan) yang telah
mencapai ukuran tertentu harus diberi hukuman potong tangan akan
tetapi ia harus berusaha untuk menangkap ruh (spirit) dari ayat
tersebut. Semisal spirit dari ayat tersebut adalah agar pencuri itu jera
dan tidak mengulangi lagi. Jika demikian spiritnya maka pencuri
tidak harus potong tangannya bisa juga dimasukkan kepenjara dan
lain sebagainya yang penting ia bisa jera. Apalah artinya dipotong
tangan sampai kaki akan tetapitidak jera. Kesimpulan dari contoh ini
antara makna dengan lafadz itu bisa dipisahkan karena dalam arti mereka
memiliki eksistensi masing-masing. Aliran ketiga ialah aliran pluralisme
yang mengatakan bahwa antara makna dengan lafadz amatlah komples.
Sebuah teks merupakan konstruk metafungsional yang terdiri
atas makna ideasional, interpersonal, dan tekstual yang kompleks.
Jadi dalam aliran ini dikatakan makna dan bentuk mempunyai
eksistensi tersendiri akan tetapi juga memiliki hubungan yang
bersifat kompleks. Misalkan seseorang memahami firman Allah
SWT. QS. Al furqan ayat 74 yang artinya “Dan orang-orang yang
mengatakan : ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati
12
kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”
berpasang-pasanagan dalam ayat ini jika di gunakan dalam konteks
kehidupan berumah tangga maka akan berarti suami dan istri. Akan
tetapi, jika kita menggunakannya dalam konteks sekolah maka bukan
suami dan istri lagi akan tetapi bangunan system pendidikan yang
memiliki hubungan harmonis, kompak dan lain sebagainya. Jadi,
ketika ayat tersebut dipahami dalam konteks keluarga atau rumah
tangga akan mengalami pemekaran makna ketika nantinya dipahami
dalam konteks pendidikan di sekolah.
c. Perlunya Pendekatan Tasawuf
Pendekatan tasawuf memiliki karakteristik tertentu yaitu
menakankan pada aspek esoteric atau kedalaman spiritualitas
batiniyah dari keberagamaan islam, mementingkan qalb dan dzauq/
rasa, langkah-langkah yang ditempuh adalah takhliyah, tahliyah, dan
tajliyah. Oleh karena itu pendidikan agama islam tidak cukup hanya
terletak diotak dan badan saja akan tetapi harus dilakukan
internalisasi atau proses memasukkan yang eksternal/eksoteris itu ke
dalam qalb dan dzauq, atau aspek esoteric dan kedalaman
spiritualitas batiniyah dari keberagamaan islam. Internalisasi itu
dapat dilakukan melalui keteladanan atau pembiasaan.
Misalnya, selama ini peringatan Isra' Mi'raj hanya diisi
dengan ceramah agama yang ujung-ujungnya adalah perintah sholat.
Jika demikian berarti hanya otak mereka (aspek eksternal/eksoteris)
saja yang diisi. Internalilsasinya dengan cara peserta didik diajak ke
mushalla atau masjid untuk melakukan shalat sunnah muthlaq
sebanyak 20 rakaat misalnya. Proses internalisasi juga bisa
dilakukan dengan cara mengadopsi atau memodifikasi model
renungan malam yang biasa dikembangkan pada kegiatan Pramuka
sambil membacakan sajaksajak, model ESQ yang dikembangkan
oleh Ari Ginanjar, model dzikir oleh Ustad Haroyono, dan lain- lain
yang mana kesemuanya itu dilakukan guna menggugah dan
13
menyentuh perasaan dan hati peserta didik sehingga terdorong kuat
untuk komitmen dalam melakukan kebajikan-kebajikan. (Ahmad
Muzakki.2018)
14
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Aktualisai berarti sebuah cara atau proses, disini kata aktualisasi begandengan
dengan kata PAI yakni memiliki maksud bagaimana membuat PAI benar-benar ada,
benar-benar diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.solusi yyang mengarahkan
peserta didik untuk mencapai aspek being dan tisdak hanya pada aspek knowing dan
going saja. Maka perlu adanya peran seorang pendidik dengan menjaankan kurikulum
yang terupdate.
Aktualisai PAI ini dilatar belakangi adanya beberapa masalah diantaranya PAI
kurang bisa mendorong penjiwaaan tehadap nilai-nilai keagamaan yang perlu
diintermalisasikan dalam diri peserta didik, PAI kurang memiliki relevansi terhadap
perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat. Untuk mengatasi beberapa masalah tersebut
maka diadakanlah aktualisasi PAI dimadrasah dengan menggukan pendekatan
pembelajaran kontekstual. Yang mana pendekatan ini menjadikan seorangindividu
belajar dengan cara mengkontruksi makna melaluiinteraksi dan dengan
menginterpretasikan lingkungannya.
Faktor yang telah dijelaskna lebih banyak menyangkut aspek metodologi
pembelajaran. Pendekatan kontekstualbersumber dari pendekatan konstruktivis.
Pendidikan agama islam memiliki lima aspek yaitu, aspek Al-qur’an dan Hadis, Aqidah,
aspek akhlak, aspek Fiqih dan aspek Tarikh atau sejarah. Kelima aspek tersebut dapat
ditanamkan kepada peserta didik melalui pembelajaran yang kontekstual, yang intinya
mengajarkan dengan melalui menceritakan pengalaman-pengalaman yang dapat
mengubah hati peserta didik.
15
DAFTAR PUSTAKA
Isna Nur Jannqah, 2020. Skripsi, Aktualisasi Pendidikan Agama Islam Berbasi
Konservasi Lingkungan Hidup di Sekolah Adiwiyata SMP N2 Tangaran Tahun
Pelajaran 2019/2020. (Salatig, Isna Nur Jannah)
Ii Mohammad Daud, 1998. Pendidikan Agama Islam.( Jakarta. CV. Raja Grafindo
Persada)
Endang Sarfuddin Anshari, 1987. Ilmu Filsafat Dan Agama. ( Surabaya, Bina Ilmu)
16