CBR Bullying

Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 24

CRITICAL BOOK REVIEW

ISU BULYING

Disusun Oleh :
Chani Marua Halma Sinaga (3223322003)
Etania Purba (3222422010)
Febrianty Manurung (3222422009)
Emilia Banjar Nahor (222323210629)

Dosen Pengampu : Dr. Ratih Baiduri, M.Si

PRODI PENDIDIKAN ANTROPOLOGI


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Maret 2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat-
Nya yang senantiasa selalu diberikan sehingga penyusunan Criticai Book Review (CBR) ini
dapat terselesaikan dengan baik.
Adapun tujuan dari penyusunan Critical Book Review (CBR) ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Antropologi Gender dan Seksualitas. Kami sangat berterimakasih kepada
dosen pengampu mata kuliah yang telah membimbing kami (lalam penyusunan Critica/ Book
Review (CBR) ini serta telah memberikan kami kesempatan untuk mengembangkan kemampuan
dalam mengkritisi sebuah buku dengan baik dan benar,
Kami berharap Critical Book Review (CBR) ini dapat bermanfaat serta menambah wawasan bagi
para pembaca. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Critical Book Review (CBR) ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami sangat menerima dan terbuka terhadap
kritik, saran, dan tanggapan yang membangun agar kedepannya bisa menjadi pelajaran bagi
kami.

Medan, Maret 2024

Tim Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Critical Book Review (CBR) atau biasa disebut laporan kitik dari sebuah buku adalah
suatu laporan yang berisi ulasan dan kritik terhadap suatu buku (buku utama) terhadap buku
yang lain (buku pembanding), namun kedua buku tersebut harus dalam rumpun atau
pembahasan topik yang sama. Kemampuan dalam membuat Critical Book Review (CBR)
sangat diperlukan untuk memperdalam pemahaman terhadap suatu topik pembahasan bidang
ilmu. Dalam membuat Critica/ Book Review (CBR) tentu tidak hanya berpatokan pada
perbandingan isi dari buku saia, melainkan kita juga harus mampu memberikan evaluasi dari
Segi penjelasan, interpretasi, analisis, serta kita juga dituntut untuk menentukan kelemahan
dan kelebihan dari suatu buku.
Terkadang kita merasa bingung akan suatu topik masalah dan mengambil buku yang
berhubungan masalah tersebut. Namun kita justru sulit memahami buku yang kita baca. Oleh
karena itu alangkah lebih baik jika kita mengambil beberapa buku yang bertema atau
membahas topik yang sama untuk kita review dan diambil kesimpulannya.

1.2 Tujuan Penulisan Criticai Book Review (CBR)


Adapun tujuan dari penulisan Critica/ Book Review (CBR) ini adalah untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Antropologi Gender dan Seksualitas. Selain itu, Crtical Book
Review (CBR) ini j uga bertujuan untuk memberikan kritikan dan analisis terhadap suatu
buku serta untuk meningkatkan kemampuan menganalisis dan mengkritisi sebuah buku
dengan baik.

1.3 Manfaat Penulisan Criticai Book Review (CBR)


Manfaat dari penulisan Critica/ Book Review (CBR) ini adalah untuk dapat
meningkatkan pemahaman tentanv isu isu Bullyingm. Selain itu, Critica/ Book Review
(CBR) ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca.
BAB II
IDENTITAS BUKU

A. Buku Utama
Judul Buku : Cyberbullying dan Body Shaming
Pengarang : Karyanti Aminudin
Penerbit : K. Media
Tahun Terbit ; 2018
Kota Terbit : Yogyakarta
ISBN : 978-602-451-335-1
Tebal Halaman : 116 Halaman

B. Buku Pembanding
Judul Buku : Kill Bullying Hentikan Hentikan Kekerasan di Sekolah
Pengarang : Setia Budhi, PhD
Penerbit :
Tahun Terbit ; 2016
Kota Terbit : -
ISBN : 978-623-91281-3-5
Tebal Halaman : 131 Halaman
BAB III
RINGKASAN BUKU

3.1 Buku Utama


A. BAB I Bullyng
1. Pengertian Bullyng
Bullying adalah pengalaman yang terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh
tindakan orang lain dan takut apabila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi,
sedangkan victim merasa tidak berdaya untuk mencegah perilaku bullying yang
dialami. Sejumlah besar penelitian telah dilakukan pada bullying tradisional.
Bullying didefinisikan sebagai perilaku agresif atau 'kerusakan' yang sengaja
dilakukan oleh satu orang atau kelompok, dilakukan dengan cara berulang dan
melibatkan perbedaan kekuatan dan kekuasaan. Olweus (Rigby, 2007) membagi dua
tipe bullying yaitu:

 Bullying secara langsung adalah perilaku menyakiti secara fisik oleh individuatau
kelompok.
 Bullying tidak langsung, seperti pengucilan melalui media sosial dan secara verbal
yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Bullying disebut juga sebagai bagian
dari perilaku agresif karena di dalamnya melibatkan tindakan agresi atau serangan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Olweus dan Roland (James, 2010) hasil penelitian
menunjukan sebuah kesimpulan agar bisa disebut disebut sebagai bullying, yaitu perilaku
menyakiti dengan cara fisik, verbal dan psikologis atau bentuk kekerasan lain harus terjadi
sedikitnya sekali dalam seminggu atau lebih selama periode waktu satu bulan. Berdasarkan
hasil kesepakatan beberapa peneliti bahwa pengertian bullying adalah tindakan yang
mengakibatkan kekerasan atau agresi secara langsung dan agresi secara tidak langsung.
Tindakan kasar atau kekerasan bisa dikatakan bullying jika individu sebagai victim merasa
tidak menyukai tindakan yang dilakukan oleh orang lain atau kelompok, dan telah melukai
perasaan victim.

2. Fakta Bullyng
Field (2007) menyatakan bahwa ada beberapa fakta tentang bullying. Berikut beberapa
fakta tentang bullying:
1. Bullying melibatkan pelecehan psikologis, emosional, sosial atau fisik.
2. Ciri yang krusial adalah persepsi: victim terasa tidak berdaya.
3. Masalah kritis adalah tingkat kerusakan yang terjadi pada victim.
4. Sekitar satu dari lima siswa diganggu secara teratur dan sekitar satu di antara lima
victim adalah bully secara teratur.

1. Bullying terjadi paling sering dari kelas enam hingga delapan, dengan sedikit variasi di
antara keduanya daerah perkotaan, pinggiran kota, kota dan pedesaan.
2. Pria lebih cenderung menjadi bully dan victim dari pada wanita. Pria lebih banyak
cenderung mengalami bullying secara secara fisik, sementara wanita lebih mungkin
untuk secara verbal atau secara psikologis diganggu.
3. Bully dan victim mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan lingkungan mereka,
keduanya secara sosial dan psikologis. Victim memiliki kesulitan lebih besar dalam
mencari teman dan mengalami kesepian.
4. Bully lebih cenderung merokok dan minum alkohol, dan menjadi siswa yang lebih
rendah dalam prestasi.
5. Bully-vicim anak yang merupakan bully dan penerima bullying - cenderung mengalami
isolasi sosial, melakukan yang buruk di sekolah dan terlibat dalam perilaku bermasalah
seperti merokok dan minuman beralkohol.

3. Tempat terjadi Bullyng


Field (2007) mengidentifikasi tempat-tempat di mana terjadi bullying
1. Di sekolah mana pun, miskin atau kaya, pribadi atau negara, dunia pendidikan atau
sekolah satu jenis kelamin, kecil atau besar, agama atau non-agama, konservatif,
sekolah tradisional atau progresif, hari atau asrama.
2. Di sekolah: di ruang kelas, taman bermain, kantin, toilet, loker, fasilitas olahraga, ruang
ganti, koridor terisolasi, kamp sekolah.
3. Di luar sekolah: bepergian ke dan dari sekolah, di penitipan setelah program sekolah,
taman bermain, pusat perbelanjaan.
4. Di dunia maya: pesan teks, email, ruang obrolan Internet dan situs web, papan buletin,
foto digital.

Kowalski et al. (Mishna & Solomon, 2009) Alat komunikasi elektronik sedang
memindahkan diskusi tentang bullying ke dunia elektronik jalan raya informasi. Mirip
dengan bullying tradisional, cyberbullying, juga dikenal sebagai penindasan elektronik atau
kekejaman sosial online.
4. Peran-peran Dalam Peristiwa Bullyng
Bullying yang dilakukan oleh individu atau kelompok, masing-masing individu yang
terlibat memiliki peran atau sebutan tersendiri. Hymel dkk, (2009) menyatakan bahwa
bullying memiliki tingkat yang sangat bervariasi di setiap negara. Sekitar 9% sampai
73% dari remaja dan anak-anak melaporkan bahwa mereka telah mem-bully remaja dan
anak-anak lain dan 2% sampai 36% dari remaja dan anak-anak mengatakan bahwa
mereka adalah victim.
Menurut Rigby (2007) terdapat peran-peran dalam peristiwa bullying, yaitu:
1. Bully adalah anak yang dikategorikan sebagai pelaku dan pemimpin. Berinisiatif dan
aktif terlibat dalam peristiwa bullying sebagai pelaku.
2. Assistance Bully adalah anak yang juga terlibat aktif dalam peristiwa bullying, namun
cenderung bergantung atau mengikuti perintah bully.
3. Reinforcer adalah anak yang ada ketika peristiwa bullying, ikut menyaksikan,
mentertawakan victim, memprovokasi bully, mengajak anak lain untuk menonton dan
sebagainya.
4. Victim adalah anak yang menjadi victim atau anak yang dibully.

5.Jenis- Jenis Bullyng


Jenis bullying dapat berupa tindakan fisik dan verbal yang dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung. Menurut Field (2007) terdapat empat jenis bullying, yaitu (1) bullying fisik
(memukul, menendang, menampar, mencekik, menggigit, mencakar.
6.Karateristik Bullyng dan Victim
Victim reaktif, Anak ini adalah victim dan bully pada waktu yang berbeda. Dia tidak dapat
diprediksi; banyak anak-anak seperti itu terlibat sendiri, menunjukkan minat minimal pada
orang lain, dan harga diri rendah dan kesulitan sosial. Beberapa bereaksi terhadap kesulitan
pribadi, keluarga atau lainnya, dulu atau sekarang, dengan menjadi agresif bukannya asertif.
Bully-victim sering tidak disukai oleh orang dewasa. mungkin memiliki kesulitan belajar,
kesulitan belajar, konsentrasi atau menjadi tidak dewasa, hiperaktif, mencari perhatian. Bully-
victim terlalu sensitive terhadap olok-olok atau kritik; mereka menyalahkan ketidak keadilan
dan melawan, dengan demikian memperpanjang permainan bullying (Field, 2007).
7.Karakteristik bullyng
Coloroso (Rigby, 2007) memaparkan sifat-sifat yang dimiliki bully yakni: (1) suka
mendominasi siswa lain; (2) suka memanfaatkan siswa lain untuk mendapatkan keinginannya;
(3) sulit melihat situasi dari titik pandang siswa lain; (4) hanya perduli pada keinginan dan
kesenangan sendiri, bukan pada kebutuhan, hak-hak, dan perasaan-perasaan siswa lain; (5)
cenderung melukai siswa lain ketika tidak ada pengawasan dari orang tua atau orang dewasa
yang lain; (6) memandang siswa yang lebih lemah sebagai mangsa; (7) menggunakan kesalahan,
kritikan, dan tuduhan-tuduhan yang keliru untuk memproyeksikan ketidakcakapannya pada
victim; (8) tidak mau bertanggung jawab pada tindakannya dan (9) tidak memiliki pandangan
terhadap konsekuensi dari perilakunya saat itu. Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa
karakteristik dari anak-anak yang menggertak rekan-rekan mereka secara teratur (Yaitu,
mengakui bullying rekan-rekan lebih dari kadang-kadang). Anak-anak ini cenderung memiliki
impulsif, kepala panas,kepribadian yang dominan; mudah frustasi; memiliki kesulitan sesuai
dengan aturan; dan melihat kekerasan dalam pandangan yang positif (Olweus, 1993a; Olweus,
Limber, & Mihalic, 1999). Anak laki-laki yang bully cenderung memiliki fisik kuat dari rekan-
rekan mereka (Olweus, 1993a; Fleming, 2002).
8. Karakteristik Victim
Olweus (O’Connell, 2003) mengidentifikasi dua tipe victim, yaitu: (1) victim pasif,
mempunyai karakteristik pencemas, kurang rasa percaya diri, mereka selalu merasa dirinya
lemah dan tidak berdaya serta tidak dapat berbuat apa-apa untuk menjaga diri mereka dan (2)
victim provokatif, mempunyai fisik yang lebih kuat, walaupun cemas tapi victim lebih bersipat
aktif. Olweus (O’Connell, 2003) menyatakan bahwa bullying terbukti sangat sulit bagi siswa
yang menjadi victim untuk mempertahankan diri.
9. Gender dan Bullyng
Siswa terlepas dari jenis kelamin, memiliki keinginan yang kuat untuk diterima dalam
pergaulan. Olweus (Field, 2007) menyatakan bahwa pada umumnya siswa laki-laki
menggunakan bullying secara fisik dan siswa perempuan menggunakan bullying
relasional/emosional, namun keduanya sama-sama menggunakan bullying verbal. Perbedaan ini,
lebih berkaitan dengan pola sosialisasi yang terjadi antara siswa laki-laki dan perempuan.
Penelitian Swedish & Olweus (O’Connell, 2003) memperkirakan bahwa 15% dari semua
siswa terlibat dalam beberapa bentuk kekerasan sebagai bully atau victim.
Menurut Olweus (Rigby, 2007) serangan fisik lebih mungkin dilakukan oleh siswa laki-
laki dan siswa perempuan sering menunjukkan kekejaman besar dalam bentuk yang lebih halus
seperti pelecehan. Siswa perempuan cenderung menggunakan metode yang akan mempengaruhi
status sosial dari victim seperti pengucilan, manipulasi persahabatan, atau penyebaran rumor.
Kecenderungan utama victim
1. Anak laki-laki sedikit lebih mungkin dari pada anak perempuan menjadi victim bullying
2. Terjadinya bullying menurun seiring bertambahnya usia, tetapi penurunannya lebih kecil
untuk anak laki-laki Untuk perempuan
3. Bullying verbal adalah jenis bullying yang paling sering dialami oleh anak perempuan
dan anak laki-laki
4. Anak laki-laki lebih cenderung menjadi victim bullying fisik dari pada anak perempuan,
tetapi anak perempuan sedikit lebih mungkin menjadi victim pengecualian.

Kecenderungan utama bully:


1. Anak laki-laki lebih aktif dari pada anak perempuan, dan perbedaan ini meningkat seiring
bertambahnya usia
2. Jumlah anak laki-laki yang mem-bullying sesama murid meningkat secara nyata saat
mereka bertambah tua
3. Jumlah gadis yang mem-bullying mem-bullying sesama murid relatif stabil di semua usia
4. Anak laki-laki lebih sering menggunakan bullying fisik dari pada anak perempuan dan
anak perempuan sering menggunakan pengecualian
5. Baik laki-laki dan perempuan menggunakan ejekan
10.Tanda Peringatan Bullying
Menurut Field (2007) salah satu dari gejala berikut mungkin menunjukkan bullying.
Diskusikan dengan anakmu:
1. Tanda Fisik
a. Harta benda hilang, rusak, tersebar,misalnya. buku, uang, pakaian, makan siang.
b. Memiliki memar, luka, goresan, pakaian robek tanpa alami penjelasan.
c. Menjelaskan didorong, didorong, dipukul, dipukul, dan ditendang.
d. Terlibat dalam perkelahian di mana dia merasa tak berdaya.
e. Mengeluhkan sakit dan nyeri ringan, sering sakit ringan, kesulitan.
11. Faktor bullyng
Ini termasuk kurangnya kehangatan dan keterlibatan dari orangtua; orangtua terlalu permisif
(dengan kurangnya batas yang jelas untuk tingkah laku anak); kurangnya perhatian orang tua;
dan kasar, disiplin fisik. Penelitian terbaru juga menunjukkan hubungan antara pengalaman
penganiayaan anak (Kekerasan fisik dan seksual) dan perilaku bullying (Lihat misalnya, Shields,
& Cicchetti, 2001; Flemer et al, 2002).
12. Dampak Bullyng
Menurut Olweus (O’Connell, 2003) bully memiliki kesempatan lebih tinggi mengembangkan
perilaku kriminal dibandingkan siswa lain. Dalam beberapa kasus, bullying dapat menjadi
langkah dalam pengembangan lebih luas pola perilaku negatif. Penelitian Swearer dkk (2010)
telah menunjukkan bahwa siswa-siswa yang diganggu kemungkinan akan menghindari sekolah
atau bahkan drop aut. Pengaruh bullying pada siswa menciptakan hambatan belajar dan
berhubungan dengan sejumlah perilaku negatif termasuk peningkatan risiko penyalahgunaan zat
adiktif, kenakalan, bunuh diri, pembolosan, masalah kesehatan mental, cedera fisik dan prestasi
akademis menurun. Siswa yang terlibat baik sebagai bully dan victim sering bermasalah dalam
kehidupan sehari-hari (Glover, Gough, Johnson, & Cartwright, 2000; Rossen & Cowan, 2012).

BAB II CYBERBULLYNG
Pengertian Cyberbullyng
Label ‘Cyberbullying ’ Masalah yang terkait dengan istilah yang digunakan untuk label
fenomena cyberbullying di berbagai bahasa dapat diturunkan dari literatur bullying. Smith et
al (Konig et al., 2010); Kata ‘bullying’ tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa yang
berbeda, dan istilah yang berbeda digunakan keduanya dalam satu bahasa dan dalam bahasa
yang berbeda sebagai contoh, istilah 'mobbing' umum dalam bahasa Skandinavia dan
Jermanik. Kata-kata untuk bullying kurang akrab dalam bahasa Latin, meskipun baru-baru ini
lebih seringtelah digunakan. Di Italia dan Spanyol ada sejumlah istilah, semuanya
mengkonotasikan aspek tertentu dari bullying (Fonzi, Genta, Menesini, Bacchini, Bonino, &
Constabile, 1999; Ortega, Del Rey, & Mora-Merchán, 2001; Konig et al., 2010).
Fakta Cyberbullying
Cyberbullying perilaku yang memiliki unsur ketidakseimbangan kekuatan dan kekuasaan
dapat dinilai “dalam hal perbedaan penguasaan teknologi antara cyberbullies dan cybervictim,
relatif tanpa identitas, status sosial, dan jumlah teman. Bullying dunia maya sering disebut
dengan Cyberbullying , bahwa itu telah meningkat secara dramatis dari waktu ke waktu, dan
bahwa bentuk bullying baru ini telah menciptakan banyak cybervictim dan cyberbullies baru.
Media Cyberbullying
Bullying dari ponsel melalui percakapan, pesan teks dan foto adalah hal yang relatif baru
masalah, karena meluasnya penggunaan ponsel. Cyberbullying berbeda dari bullying tradisional,
bahwa cyberbullies dan cybervictim tidak bertatap muka ketika bullying terjadi. Dalam sebuah
penelitian yang mewakili sekitar 4500 murid dari 5 hingga 10 tahun di sekolah Norwegia (usia
sekitar 10 hingga 16), tingkat cyberbullying dipetakan (Auestad & Roland, 2005).
Menurut Colorasa (2003) bullying verbal dapat berupa menakuti lewat handphone, e-
mail yang mengbullying dan suratsurat kaleng yang berisi ancaman kekerasan dan ejekan
seksual.
Cyberbullying adalah bentuk bullying yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi
lebih jelas, seperti penggunaan perangkat elektronik seperti komputer dan telepon seluler oleh
orang-orang muda telah meningkat (Smith, et al, 2006). Cyberbullying telah didefinisikan
sebagai '' disengaja dan bahaya berulang yang ditimbulkan melalui penggunaan komputer,
telepon seluler, dan perangkat elektronik lainnya '' (Hinduja & Patchin, 2010).
Beane (2008) Seperti apa melihat cyberbullying :
1. Cyberbullying dapat melibatkan berbagai bentuk teknologi:
2. Panggilan telepon seluler
3. Pesan teks
4. Klip-klip gambar / video
5. E-mail
6. Pesan instan
7. Ruang obrolan
8. Situs web
9. Gaming
Bentuk-bentuk Cyberbulling
Bentuk-bentuk kekerasan cyberbullying bukan hanya kekerasan yang bisa membuat
orang terluka fisik, kekerasan cyberbullying lebih kepada kekerasan yang menuju kepada psikis
atau mental seseorang.
Menurut Ayunintgyas, dkk (2013) “pembajakkan akun pribadi seseorang, penyebaran
berita bohong atau fitnah juga termasuk perilaku cyberbullying berdasarkan pengertian
tersebut diatas, penyebaran berita bohong tersebut juga termasuk dalam pencemaran nama
baik”. Menurut Utami (2014:4) bentuk-bentuk cyberbullying yang banyak terjadi seperti
mengganti foto account seseorang, menghina seseorang, dan membajak account seseorang
dengan mengganti password.
Karakteristik Cyberbullies dan Cybervictim
1. Cyberbullies
Terlepas dari sejumlah bentuk yang tumpang tindih dengan bullying tradisional, ada
aspek-aspek unik untuk cyberbullying . Misalnya, cyberbullies sering menyembunyikan
identitas mereka dan tetap tanpa nama. Juga, perilaku jahil di dunia maya melampaui batas
ruang dan waktu; itu bisa terjadi 24 jam sehari setiap saat, siang atau malam, dan itu tidak
terjadi terbatas pada tempat-tempat seperti sekolah, tetapi dapat terjadi di mana saja (Hinduja &
Patchin, 2008; Smith et al., 2008; Willard, 2005; Konig et al., 2010) Hubungan sosial
memberikan berbagai manfaat yang mungkin tidak tersedia untuk remaja yang kesepian, seperti
kesempatan untuk meningkatkan keterampilan sosial meliputi pemberian empati (Eisenberg &
Strayer, 1987; Brewer & Kerslake, 2015)
2. Cybervictim
Aquino, Tripp, dan Bies (Konig et al., 2010) menemukan bahwa cybervictim cenderung mencari
cara untuk balas dendam terhadap status agresor yang lebih tinggi, dengan alasan bahwa
cybervictim takut akan pembalasan balik. Mempertimbangkan sifat cyberbullying , mungkin
memang sangat menarik bentuk balas dendam: itu memenuhi keinginan untuk mencari keadilan,
untuk menghukum bully, dan untuk menunjukkan kepada rekan-rekan lain yang relevan bahwa
seseorang bukan orang yang harus berjalan sementara pada saat yang sama menyembunyikan
identitasnya dari cybervictim.
Faktor Cyberbullying
Penelitian sebelumnya tentang penindasan di sekolah telah mengidentifikasi beberapa faktor
yang kemungkinan berkontribusi terhadap cyberbullying . Di antara mereka adalah faktor-faktor
signifikan gender, prestasi akademik, dan budaya. Selain itu, penelitian tentang cyberbullying
telah melaporkan bahwa frekuensi
Dampak Cyberbullying
Kekerasan yang dialami anak atau remaja yang dilakukan oleh cyberbullies melalui
media cyber atau internet, sering kali merasa depresi, merasa terisolasi, diperlakukan tidak
manusiawi, dan tidak berdaya ketika diserang. Menurut Rahayu (2011) “dampak dari
cyberbullying untuk para cybervictim tidak berhenti sampai pada tahap depresi saja, melainkan
sudah sampai pada tindakan yang lebih ekstrim yaitu bunuh diri”.
Gender dan Cyberbullying
Salah satu aspek yang paling menarik debat dari bullying/cyberbullying, berkaitan dengan
perbedaan gender. Secara tradisional, pria lebih terlibat dalam banyak perilaku cyberbullying
daripada wanita (Forero, McLellan, Rissel, & Baum, 1999; Nansel et al., 2001; Sourander,
Helstela, Helenius, & Piha, 2000; Dooley et al, 2009).
Namun, Blair (Dooley et al, 2009) melaporkan bahwa perempuan lebih mungkin berkomunikasi
menggunakan pesan teks dan email daripada laki-laki; ini dikombinasikan lebih terselubung (dan
sosial) sifat cyberbullying, akan membuat alasan- dapat mengharapkan bahwa perbedaan gender
ditunjukkan dalam bullying langsung, tidak sekuat di cyberbullying.
BAB III KONDISI LINGKUNGAN DAN CYBERBULLYNG
A. Standar Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa dapat memahami konsep dasar lingkungan untuk
mencegah dan menangani bullying dan Cyberbullying.

B. Kompetensi Dasar
Sekolah dan Cyberbullying
Bullying tradisional sering terjadi di sekolah, tetapi sekarang ada juga Cyberbullying yang
menggunakan teknologi. Cyberbullying adalah agresi yang dilakukan secara sengaja dan
berulang di lingkungan elektronik. Bentuk Cyberbullying meliputi pesan melecehkan atau
memalukan yang dikirim melalui teknologi seperti email, pesan teks, atau media sosial.
Hukum Tentang Cyberbullying
Ada perhatian meningkat terhadap Cyberbullying karena hubungannya dengan kasus bunuh diri
dan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik.
Mencegah dan Menghentikan Cyberbullying
Orang tua, sekolah, dan pemerintah harus memberikan edukasi tentang perilaku online yang
benar dan aman. Pemantauan terhadap aktivitas online anak-anak bisa dilakukan secara informal
atau formal. Untuk menghentikan Cyberbullying, orang tua bisa berkolaborasi dengan guru atau
menghubungi pihak berwenang. Komunikasi Elektronik dan Pentingnya Mempelajari
Cyberbullying Pemantauan oleh pengasuh yang jarang dapat meningkatkan aktivitas
Cyberbullying, sehingga penting bagi orang tua untuk memantau komunikasi elektronik anak-
anak. Strategi untuk mengatasi Cyberbullying meliputi pengaturan privasi yang ketat,
pemblokiran perangkat lunak, dan mengurangi waktu online.
Strategi untuk Mencegah dan Mengatasi Cyberbullying:
Penilaian dan Pendidikan: Menganalisis masalah di sekolah melalui survei atau wawancara
dengan siswa.Mengajarkan bahwa segala bentuk bullying tidak dapat diterima.
Aturan yang Jelas: Menetapkan aturan yang jelas tentang penggunaan internet dan teknologi.
Peer Mentoring: Siswa lebih tua bisa mengajarkan tentang interaksi online yang positif kepada
siswa muda.
Blokir dan Filtering: Menggunakan perangkat lunak pemblokiran untuk mencegah akses ke situs
atau aplikasi tertentu.
Iklim Sekolah yang Positif ; Membangun lingkungan sekolah yang penuh rasa hormat dan
integritas.
Pendidikan Komunitas: Memasukkan masalah Cyberbullying dalam kurikulum dan kegiatan
edukasi komunitas.
Tindakan jika Anak Mengalami Cyberbullying:
Langkah-langkah untuk Cybervictim dan Keluarga: Mengabaikan pesan, jangan merespons.
Menyimpan bukti, melaporkan kepada orang dewasa yang bisa dipercaya. tidak mendorong
balasan dendam atau aksi yang bisa memperburuk masalah.
Saran dari Beane (2008) jika Anak Mengalami Cyberbullying: mengabaikan Pesan: Tidak
merespons langsung.
Menyimpan Bukti: Untuk keperluan bukti.
Melaporkan ke Orang Dewasa: Berbicara kepada orang dewasa yang dipercaya, memblokir dan
Menghapus: Mengajarkan cara memblokir dan menghapus pesan.
Menyimpan Kerahasiaan: Merahasiakan informasi pribadi online.
Mengatur Akun Baru: Bisa mempertimbangkan membuat akun baru untuk menghindari
cyberbully.
BAB IV BODY SHAMMING BAGIAN DARI BULLYNG
Body shaming melalui media sosial merupakan tindakan cyberbullying. Sehubungan
dengan pedoman asli oleh Van Hee et al. (2015c), kami menambahkan penghinaan jenis baru
disebut Body Shame untuk menutupi ekspresi, mengkritik seseorang berdasarkan bentuk,
ukuran, atau penampilan tubuhnya. Frisen et al. (Berne et al., 2014) Kami melakukan
penambahan body shaming telah menjadi hal yang penting untuk masalah kemasyarakatan yang
sesuai dengan literatur yang memiliki dampak yang kuat pada victimization remaja dan
cyberbullies.
Healthy Living Cooperative (Stacey, 2017) Cyberbullies menggunakan body shaming,
sering dalam bentuk gaslighting, untuk menargetkan pria dan wanita yang tidak sesuai dengan
standar kecantikan masyarakat. Body shaming didefinisikan sebagai, “pernyataan dan sikap
negatif yang tidak pantas pada berat atau ukuran tubuh orang lain ”yang sering menyebabkan
peningkatan ketidak amanan tubuh.
Cyberbullies satu arah umumnya menggunakan outlet ini untuk mengekspos
ketidaksempurnaan orang lain yang tidak sesuai dengan harapan kecantikan masyarakat.
Fenomena sekarang disebut “body shaming.” Body shaming adalah masalah sosial yang besar,
dan telah menjadi salah satu masalah yang utama terkait dengan cyberbullying
National Institute of Mental Health (Stacey, 2017) Sebuah reaksi besar dari body shaming
dapat menyebabkan citra diri yang lebih buruk pada cybervictim, dan bahkan mengalami
gangguan makan. Gangguan makan adalah penyakit mental serius yang kadang bisa fatal,
karena mengganggu perilaku makan yang tidak normal. Pria dan wanita sama-sama menderita
gangguan makan yang umumnya mengarah pada obsesi terhadap bentuk dan berat badan
mereka. Gangguan makan yang paling umum adalah gangguan anoreksia nervosa (kelaparan),
bulimia nervosa (pembersihan), dan pesta makan (Over-makan).

BAB V HUKUM CYBERBULLYNG DAN BODY SHAMMING


Menurut Syam (2015) aspek hukum Cyberbullying menanggapi masalah
cyberbullying, indonesia telah memiliki peraturan perundang -undangan yang cukup untuk
menindak tindak pidana cyberbullying, secara umum cyberbullying dapat saja
diinterprestasikan terhadap berbagai delik yang diatur dalam hukum pidana umum di
indonesia, yaitu yang termuat dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Pasal-
pasal KUHP yang relevan dalam mengatur delik Cyberbullying ini adalah yang tercantum
dalam Bab XVI mengenai penghinaan, khususnya pasal 310 ayat (1) dan (2).

(1) Barang siapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan
menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam
karena pencemaran, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak empat ratus ribu lima ratus rupiah.
(2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukan atau
ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana
penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ratus
ribu lima ratus rupiah.

Kedua pasal tersebut, maka pasal 310 ayat (2) dinilai lebih cocok untuk menuntut para
bully Cyberbullying. Namun memang disini tidak ditegaskan mengenai apa yang dimaksud
dengan “muka umum”. ‟Pertanyaan mengenai apakah dunia maya termasuk dalam kategori
“muka umum” sudah dijawab dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 50/PUU-VI/2008,
dimana mahkamah berpendapat bahwa “Penghinaan yang diatur dalam KUHP (penghinaan
offline) tidak dapat menjangkau delik penghinaan dan pencemaran nama baik yang dilakukan di
dunia cyber (penghinaan online) karena ada unsur di muka umum.
Undang-Undang Republik Indonesia No.32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dalam Pasal
36 ayat (5) yang berbunyi: “Isi siaran dilarang: a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan
dan/atau bohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika
dan obat terlarang; atau c. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.” dan Pasal
36 ayat (6) yang berbunyi: “Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan
dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia indonesia, atau merusak hubungan
internasional.”
Tindakan cyberbullying dan body shaming telah menadi perhatian serius dari pemerintah.
Perhatian pemerintah diwujudkan dengan pembuatan undang-undang yang mengatur tentang
tindakan cyberbullying dan penghinaan secara online. Tindakan cyberbullying dan body
shaming berdampak negatif bagi korban, sehingga harus segera dihentikan. undang-undang
yang dibentuk dimungkinkan untuk mengurangi tindakan cyberbullying dan body shaming.

3.2 Buku Pembanding


a) Apa aitu Bullying
Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying)
adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau
mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan
ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara
lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali
terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau
kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik,
verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi
interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan
lingkungan Bullying adalah tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau
kelompok yang lebih lemah.
b) MENGENANG KEMATIAN AKIBAT BULLYING
Di Amerika saja diketahui bahwa 1 dari 4 siswa menjadi korban penggencetan setiap
harinya. School Bullying Statistics juga menemukan bahwa dalam 85 persen kasus
bullying tidak dihentikan oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Seperti contoh
Rahtaeh Parsons
Bagi seorang gadis, mengalami pelecehan seksual saja sudah merupakan bencana yang
sulit dihadapi. Apa jadinya bila setelah mengalami hal tersebut, ia malah 'disiksa' di
media sosial? Rehtaeh Parsons (17), siswa asal Nova Scotia, akhirnya memutuskan
mengakhiri hidup pada April 2013 setelah berbulan-bulan menjadi target bullying.
Sebelumnya, sebuah foto yang menunjukkan perkosaan yang dialaminya beredar di
sekolah. Menurut sang ibu, 4 laki-laki memperkosa Rehtaeh saat ia berusia 15 tahun.
Sejak saat itu, ia menjadi bahan bulan-bulanan teman-temannya. Ia diejek teman-teman
sekelas, dipermalukan secara verbal dan fisik, serta dibully di sosial media.
c) Bullying Di Indonesia
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kemal Setia Permana BANDUNG - Hari Kesehatan
Jiwa Sedunia yang dicanangkan World Health Organization setiap 10 Oktober
dimanfaatkan oleh Fakultas Keperawatan Jiwa Universitas Padjadjaran sebagai momen
untuk mewaspadai meningkatnya fenomena cyberbullying. Menurut Guru Besar
Keperawatan Jiwa Unpad, Prof Suryani, fenomena bullying di Indonesia sudah sangat
mengkhawatirkan Hasil survei menunjukkan bahwa hampir di setiap sekolah terdapat
anak korban bullying.
"Beberapa hasil survei, termasuk dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia,
menunjukkan bahwa hampir 84 persen anak-anak di sekolah menjadi korban bullying,"
kata Suryani di sela talk show " Sehatkan Jiwa Dengan Saling Menghargai Perbedaan.
Pada awal bulan Mei tahun ini sudah dua korban kekerasan di sekolah dasar diberitakan
di media massa. Pada tanggal 3 Mei 2014, seorang siswa SD berusia 11 tahun di SDN 09
Pagi-Makasar Jakarta dihajar kakak kelasnya karena menyenggol gelas es milik sang
senior. Dua hari setelah itu seorang siswi kelas 4 SD di Muara Enim meninggal dengan
luka lebam di tubuhnya.
d) Tanggung Jawab Siapa?
Sementara itu, seorang ahli pendidikan media di Mediated Reality, Jesse Miller,
berpendapat bahwa orang tua harus menjadi penjaga di 'kolam renang' media sosial.
"Orang tua harus berpartisipasi dengan anak mereka, memantau dengan siapa anak
berbicara di telepon, akun sosial media mereka, dan membatasi akses. Terapkan aturan
dasar kapan saat yang tepat untuk menggunakan ponsel pintar dan memiliki akses ke
media sosial," ujar Jesse Miller. Agar strategi anti-bullying efektif, orang tua dan
pendidik harus bekerja sama. "Setiap siswa perlu tahu ada orang dewasa yang peduli
untuk melakukan sesuatu terhadap bullying.
 Mendampingi
 Mengadvokasi
 Mengintervensi
 Pencegahan.
Orang tua dan pengasuh berkomunikasi dengan anak-anak mereka. "Orang tua memiliki
pengalaman hidup dan kebijaksanaan yang lebih bermanfaat daripada ponsel pintar dan
anak Anda dapat mengaksesnya.
e) Identifikasi
Penindasan memiliki efek jangka panjang pada korban dan si penindas itu sendiri. Untuk
korban, perlakuan itu merampas rasa percaya diri mereka. Untuk pelaku bullying,
efeknya adalah menjadi kebiasaan dan kenikmatan untuk meningkatkan ego mereka.
Ketakutan dan trauma emosional yang diderita si korban dapat memicu kecenderungan
untuk putus
sekolah. Beberapa anak-anak yang terbiasa melakukan bullying di sekolah akhirnya dapat
menjadi orang dewasa yang kejam atau penjahat.
Bullying Di Sekolah, Cara Pencegahan dan Penanganannya:
Penindasan di sekolah atau Bullying adalah Penggunaan kekerasan Atau paksaan untuk
menyalahgunakan atau mengintimidasi anak lain. Perilaku ini dapat merupakan suatu
kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.
Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau
paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar
ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Sebenarnya bullying tidak hanya
meliputi kekerasan fisik, seperti memukul, menjambak, menampar, memalak, dll, tetapi
juga dapat berbentuk
kekerasan verbal, seperti memaki, mengejek, menggosip, dan berbentuk kekerasan
psikologis, seperti mengintimidasi, mengucilkan, mendiskriminasikan.
f) Mulai Darimana ?
Secara umum bullying dapat dikelompokkan ke tiga kategori yaitu
 bullying fisik
 bullying mental

Bullying Fisik
ini adalah jenis bullying yang dapat dilihat secara kasat mata. Siapa pun bisa melihatnya
karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku bullying dan korbannya. Contoh
contoh bullying fisik antara lain:
Memukul, menendang, mencubit, mencakar
Bullying mental
Bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap mata atau telinga kita jika kita
tidak cukup awas mendeteksinya. Praktik bullying mi terjadi diamdiam dan di mar radar
pemantauan kita. Contoh contohnya: Memandang sinis, memandang penuh ancaman,
mempermalukan didepan umum, mendiamkan, mengucilkan, mempermalukan, dan lain
sebagainya.
g) Kill bullying
Penanganan paling ideal adalah apabila ada kebijakan dan tindakan terintegrasi yang
melibatkan seluruh komponen mulai dari guru, murid, kepala sekolah, sampai orangtua,
yang bertujuan untuk menghentikan perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi
korban.
Program anti-bullying di sekolah dilakukan antara lain dengan cara menggiatkan
pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat kepada pelaku, atau melakukan kampanye
melalui berbagai cara. Memasukkan materi bullying ke dalam pembelajaran akan
berdampak positif bagi pengembangan pribadi para murid.
Pencegahan
 Mencegah dan menghambat munculnya tindak kekerasan di kalangan remaja,
diperlukan peran dari semua pihak yang terkait dengan lingkungan kehidupan
remaja.
 Sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan
Yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman
untuk anak dapat mengungkapkan pengalamanpengalaman dan perasaan-
perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki
selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain.
 Berikan penguatan atau pujian pada perilaku prososial yang ditunjukkan oleh
anak. Selanjutnya dorong anak untuk mengambangkan bakat atau minatnya dalam
kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak
h) Step By Step
PertamaMenangani Korban Bullying
Jika Anda yakin anak atau anak didik Anda menjadi korban bullying, Anda akan perlu
waktu untuk bisa mengorek keterangan dan dirinya. Ta akan cenderung diam dan
menutup din, dan jika Anda memaksakan informasi itu keluar secepatnya, bisa jadi Anda
tidak akan pernah mendapatkannya. Tumbuhkan rasa nyaman dan kepercayaan dirinya
path Anda, ingat bahwa kemungkinan besar sang anak memilih diam adalah karena
selama mi tidak lemah terjadi saluran komunikasi yang lancar antara Anda dan dirinya.
Kedua Menyiapkan pribadi-pribadi bebas bullying
Hal yang lebih penting di samping mengatasi bullying adalah menyiapkan anak-anak kita
agar tidak pernah terkena atau terlibat dalam situasi bullying. Janganlah kita menunggu
sampai anak-anak kita menjadi pelaku atau korban bullying sebelum kita berbuat sesuatu.
Pada dasarnya jika kita membangun anak-anak kita menjadi orang-orang berkepribadian
kuat, mereka akan tahan terhadap segala terpaan energi negatif yang berlangsung di
sekitar mereka. Ingatlah bahwa kita tidak akan
mencetak anak-anak kuat dengan cara-cara keras atau membiarkan mereka mengalami
kekerasan.
Ketiga Respek dan Toleran
Kita perlu prihatin akan semakin menipisnya nilai nilai respek, toleransi, empati dan
kerjasama yang ditunjukkan oleh para pelaku bullying. Mereka tak peduli akan dampak
dan penderitaan yang dialami oleh si korban. Ia tak mampu mentoleransi kondisi-kondisi
yang tak disukainya dan korbannya. Ia tak mampu menunjukkan respek kepada
korbannya. Sebaliknya, yang ditunjukkannya adalah kebencian, perilaku ego, menyakiti
dan menekan korbannya untuk menimbulkan rasa takut dan intimidasi.
Keempat Menciptakan Lingkungan Bebas Bullying
Bullying merupakan fenomena yang telah meluas dan berlangsung bertahun tahun di
seluruh dunia. Karena itu mustahil menghadapinya secara sendiri sendiri dan terpisah.
Pemahaman dan tekad individual Anda sebagai orang tua atau guru memang menjadi
modal dasar untuk bisa mengatasinya, namun Anda perlu meningkatkannya menjadi
pemahaman dan tekad kolektif seluruh pihak di sekolah Anda dan bahkan di komunitas
Anda.
i) Mediasi Sebaya
Sebuah bentuk resolusi dengan pelatihan kepemimpinan mahasiswa guna membantu
rekan-rekan mereka bekerja sama untuk menyelesaikan sengketa sehari-hari. Partisipasi
dalam Mediasi Sebaya adalah sukarela, dan dengan pengecualian informasi yang illegal
atau mengancam jiwa, semua hal dibahas dalam sesi mediasi tetap rahasia. Sekolah
Mediasi Sebaya adalah salah satu yang paling populer dan bisa dibilang pendekatan yang
paling efektif untuk mengintegrasikan praktek konflik Resolusi ke sekolah-sekolah. Hal
ini tidak sulit untuk melihat mengapa: rekan mediasi mendorong siswa untuk menerapkan
keterampilan menyelesaikan konflik Ketika itu penting paling-saat mereka berada dalam
konflik.
j) Catatan Penutup
Pertama-tama renungkanlah metode yang Anda gunakan sebagai orang tua maupun guru
untuk menegakkan disiplin anak-anak Anda. Apakah cara Anda mendidik mereka tidak
terlalu keras? Ingat bahwa anak-anak adalah peniru yang baik, mereka akan mereplikasi
apapun yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Jika Anda perlakukan mereka
dengan keras, Anda pun akan mencetak anak-anak berkepribadian keras. Dan
kemungkinan besar mereka akan mempraktekkannya dalam situasi bullying.
Kedua, apakah sejauh ini Anda masih berpandangan bahwa apa yang dinamakan bullying
itu fenomena wajar yang patut dibiarkan saja bahkan harus dibina sebagai sarana
pembentukan karakter anak? Harap Anda tidak salah artikan cara-cara keras sebagai
pendekatan atau sarana mencetak pribadi yang tegar. Kekerasan akan melahirkan
kekerasan, bukan ketegaran.

BAB IV
KELEMAHAN DAN KELEBIHAN BUKU
4.1. Buku Utama
a) Kelebihan
1. .Identitas
Identitas pada buku cukup lengkap sehingga pembaca dapat mengetahui siapa
penulis buku cyberbullying dan body shaming ini
2. Penyajian Informasi Mendalam.
Buku ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang dua topik yang relevan
dan penting di era digital saat ini, yaitu cyberbullying dan body shaming.
3. Pendekatan yang Komprehensif
Penulis mengambil pendekatan yang komprehensif dengan membahas aspek-
aspek psikologis, sosial, dan teknis terkait kedua fenomena ini.
4. Solusi dan Strategi Selain membahas permasalahannya, buku ini juga
memberikan solusi dan strategi untuk menghadapi dan mencegah cyberbullying
dan body shaming. Ini memberikan panduan praktis bagi pembaca.
5. Relevansi Kontemporer Topik kedua ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat
ini, terutama dengan penetrasi yang lebih besar dari teknologi digital dalam
kehidupan sehari-hari.
6. Dukungan Data dan Riset
Penyajian didukung dengan data dan penelitian yang relevan, meningkatkan
kredibilitas buku ini sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya.
7. Penulisan didalam buku
Huruf-huruf pada penulisan dalam buku ini baik, sangat membantu pembaca
dalam memahami isi dari buku ini

b) Kelemahan Buku
1. Keterbatasan Perspektif
Buku ini mungkin memiliki keterbatasan dalam variasi perspektif yang
dihadirkan. Beberapa sudut pandang yang berbeda atau studi kasus yang lebih
lanjut dapat memperkaya pemahaman pembaca.
2. Kurangnya Tinjauan Terhadap Penggunaan Teknologi
Meskipun membahas dampak negatif teknologi, buku ini mungkin tidak cukup
mendalam dalam mengkaji bagaimana teknologi digital sendiri dapat
mempengaruhi perilaku cyberbullying dan body shaming.
3. Masalah dalam Implementasi Solusi
Sementara buku ini memberikan solusi, beberapa pembaca mungkin mengatasi
kesulitan dalam mengimplementasikan strategi yang diusulkan dalam kehidupan
sehari-hari.
4. Keterbatasan Ruang Lingkup
Dengan dua topik yang sangat berbeda, ada kemungkinan bahwa beberapa
pembaca mungkin merasa bahwa ruang lingkup buku ini terlalu luas atau
mungkin kurang mendalam pada satu topik tertentu.
5. Kurangnya Pendekatan Interaktif
Buku cetak mungkin memiliki keterbatasan dalam interaktivitas, misalnya
kurangnya latihan atau pertanyaan refleksi yang dapat membantu pembaca secara
aktif mempelajari materi dengan pengalaman pribadi mereka.

4.2. Buku Pembanding


a. Kelebihan Buku
1. Buku ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan apabila ingin mempelajari tentang
bullying karena buku ini dengan jelas memaparkan mengenai bullying.
2. Daftar Pustaka yang jelas dicantumkan di akhir buku
3. Di dalam buku, penulis mencantumkan Sebagian karya karya sastrawan yang
berisikan seperti puisi mengenai kasus bullying ke dalam buku.
4. Buku dilengkapi dengan grafik.
5. Penjelasan atau bahasa dari buku yang jelas dan mudah untuk di pahami para
pembaca
6. Dilengkapi kasus kasus bullying yang pernah terjadi di Indonesia
7. Terdapat biografi penulis.
b. Kelemahan Buku
1. Buku tidak dilengkapi dengan penerbit dan kota terbit yang jelas
2. Cover buku kurang mearik, dimana cover buku hanya berbentuk polos berwarna
merah dengan judul buku di dalamnya.
3. Penulisan bagian daftar isi yang kurang rapi
4. Pada bagian biografi, penulis menggunakan bahasa asing/inggris
5. Buku tidak dilengkapi dengan kesimpulan atau rangkuman.

BAB V
PENUTUP
5.1Kesimpulan
Bullying adalah perilaku seorang siswa atau sekelompok siswa yang menyakiti atau menyerang
secara fisik, secara verbal dan secara psikologis, dilakukan secara terus- menerus sehingga
victim merasa tertekan. Victim bullying adalah siswa yang terus-menerus mengalami perilaku
menyakitkan atau serangan secara fisik, secara verbal dan secara psikologis oleh seorang siswa
atau sekelompok siswa sehingga dirinya merasa tertekan.
Bentuk-bentuk cyberbullying diantaranya adalah membajak akun pribadi seseorang,
penyebaran berita bohong atau fitnah, mengganti foto account seseorang dan mengganti
password. Bentuk-bentuk cyberbullying dilakukan melalui media seperti pesan teks, gambar
video, panggilan telepon, e-mail, chat room, Instant Messaging (IM), situs-situs media sosial
lainnya. Faktor seseorang melakukan perilaku cyberbullying, cyberbullying terjadi dikarenakan
faktor intern dan faktor ekstern, cybervictim maupun cyberbullies merupakan orang yang
memiliki kurangnya rasa empati, pemantauan orang tua yang minim, dan keinginan menjadi
cyberbullies, selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku cyberbullying yaitu
tradisi, pengaruh media, permusuhan dan gejala depresi.

5.2 Saran
Bullying adalah perilaku yang tidak dapat diterima dan berpotensi merusak. Berikut
adalah beberapa saran dari kelompok untuk mengatasi bullying:
1. Berbicara dengan pihak yang tepat
Jika Anda menjadi korban bullying atau menyaksikan perilaku tersebut, segera laporkan
kepada guru, orang tua, atau pihak yang berwenang di lingkungan tersebut.
2. Jangan diam
Jangan pernah membiarkan bullying terjadi tanpa tindakan. Berbicaralah dengan korban
dan berikan dukungan, atau jika Anda adalah korban, cari bantuan dari orang dewasa yang
Anda percayai.
3. Edukasi
Lakukan edukasi tentang dampak negatif dari bullying kepada semua orang di sekitar Anda,
termasuk teman-teman sebaya. Tingkatkan kesadaran akan pentingnya menghormati dan
mendukung satu sama lain.
4. Bangun kepercayaan diri
Membangun kepercayaan diri dapat membantu korban mengatasi dampak psikologis dari
bullying. Dukunglah korban untuk mengembangkan keterampilan sosial, penyelesaian
masalah, dan cara mengelola emosi.
5. Jadilah contoh yang baik
Tunjukkan sikap positif dan hormat kepada orang lain. Jika Anda adalah seorang pemimpin
atau tokoh masyarakat, berbicaralah secara terbuka tentang pentingnya menghentikan
bullying dan mempromosikan budaya yang inklusif.
DAFTAR PUSTAKA
Aminudin Karyanti. 2019.Cyberbullying dan Body Shaming.K.Media
Budhi Seta.2016. Kill Bullying Hentikan Kekerasan di Sekolah.

Anda mungkin juga menyukai