Dokumen tersebut merangkum analisis spasial rencana detail tata ruang Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Tujuannya adalah membuka wilayah sempadan Sungai Krukut selebar 10 meter untuk dijadikan ruang terbuka hijau dengan merelokasi permukiman di sekitarnya. Metode analisis menggunakan sistem informasi geografis dengan mengumpulkan data primer dan sekunder, membangun basis data spasial, dan mel
100%(1)100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
1K tayangan29 halaman
Dokumen tersebut merangkum analisis spasial rencana detail tata ruang Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Tujuannya adalah membuka wilayah sempadan Sungai Krukut selebar 10 meter untuk dijadikan ruang terbuka hijau dengan merelokasi permukiman di sekitarnya. Metode analisis menggunakan sistem informasi geografis dengan mengumpulkan data primer dan sekunder, membangun basis data spasial, dan mel
Judul Asli
Analisis Spasial Kelurahan Petogogan Kota Jakarta Selatan.pdf
Dokumen tersebut merangkum analisis spasial rencana detail tata ruang Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Tujuannya adalah membuka wilayah sempadan Sungai Krukut selebar 10 meter untuk dijadikan ruang terbuka hijau dengan merelokasi permukiman di sekitarnya. Metode analisis menggunakan sistem informasi geografis dengan mengumpulkan data primer dan sekunder, membangun basis data spasial, dan mel
Dokumen tersebut merangkum analisis spasial rencana detail tata ruang Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Tujuannya adalah membuka wilayah sempadan Sungai Krukut selebar 10 meter untuk dijadikan ruang terbuka hijau dengan merelokasi permukiman di sekitarnya. Metode analisis menggunakan sistem informasi geografis dengan mengumpulkan data primer dan sekunder, membangun basis data spasial, dan mel
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online dari Scribd
Unduh sebagai pdf atau txt
Anda di halaman 1dari 29
ANALISIS SPASIAL
RDTR KELURAHAN PETOGOGAN
KECAMATAN KEBAYORAN BARU KOTA JAKARTA SELATAN Anggota Kelompok: 1. Ardi NPM. 1306361186 2. Dede NPM. 1306361204 3. Fajrin NPM.1306361236 4. Lia Fitriasari Rahayu NPM. 1306361242 5. Rifa Diana Yulianti NPM. 1306361261 6. Rudolf Doni Abrauw NPM. 1306361293 7. Vicca Karolinoerita NPM. 1306361305 8. Aljunaid Bakari NPM. 1306421664 9. Dewi Eliya Sari NPM. 1306421670 MAGISTER GEOGRAFI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS INDONESIA A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, selain memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi, ternyata pada sisi lainnya dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan lingkungan, apabila kegiatan pembangunan yang dilakukan tidak memperhitungkan faktor daya dukung lahan. Bencana banjir (flood) ataupun genangan air (inundation) merupakan salah satu contohnya. Permasalahan di Provinsi DKI Jakarta tentang bencana masih belum berubah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, walaupun pembenahan dan penanganan telah diupayakan khusus untuk permasalahan tersebut dimasa yang akan datang masih menjadi prioritas penanganan. Permasalahan banjir pada umumnya sangat terkait erat dengan berkembangnya kawasan perkotaan yang selalu diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk, aktifitas dan kebutuhan lahan, baik untuk permukiman maupun kegiatan ekonomi. Karena keterbatasan lahan di perkotaan, terjadi intervensi kegiatan perkotaan pada lahan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah konservasi dan ruang terbuka hijau. Akibatnya, daerah resapan air semakin sempit sehingga terjadi peningkatan aliran permukaan dan erosi. Hal ini berdampak pada pendangkalan (penyempitan) sungai, sehingga air meluap dan memicu terjadinya bencana banjir, khususnya pada daerah hilir. Kondisi geografis yang tidak menguntungkan, dimana luas DKI Jakarta sebesar 662.3 Km 2 dimana sebesar 40 persennya merupakan dataran rendah, yang ketinggiannya berada di bawah muka air laut pasang 1 sampai dengan 1,5 meter, dan dari 40 persen lahan tersebut baru 11.500 Hektar yang dilayani dengan Polder, dimana di Provinsi DKI Jakarta juga mengalir 13 aliran sungai menuju laut diantaranya Kali Mookervart, Kali Ciliwung, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Baru Barat, Kali Baru Timur, Kali Buaran, Kali Grogol, Kali Cipinang, Kali Jatikramat, Kali Cakung dan Kali Sunte) yang kondisinya terus mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat adanya sampah dan bangunan liar disepanjang sungai, menyebabkan bencana banjir dari tahun ke tahun menjadi suatu beban yang harus diwaspadai dan ditanggulangi di Provinsi DKI Jakarta. Selain hal tersebut diatas juga diperparah dengan pembangunan yang sangat pesat di Jabotabek serta terjadinya perubahan tataguna lahan di hulu sungai, yang menjadi penyebab penambahan debit air pada musim penghujan yang melebihi batas maksimum, pada saat ini daerah tangkapan hujan yang mempengaruhi Jakarta meliputi BOPUNJUR hanya seluas 85.000 Ha. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka pemerintah DKI Jakarta, terus mulai berbenah dalam menanggulangi bahaya kebanjiran, dimana yang dahulu genangan selalu bertahan lama maka sejak tahun 2008 dengan dimulainya normalisasi sungai-sungai di Jakarta jumlah genangan dari tahun ke tahun terus mulai terjadi pengurangan, dimana pada tahun 2010 jumlah titik genangan sebanyak 75 lokasi yang tersebar di lima wilayah A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 2 kota Jakarta, maka pada tahun 2011 dengan banyaknya pengerukan dan pelebaran sungai maka jumlah titik genangan sudah mulai berkurang menjadi 62 titik rawan banjir dan sifat genangan adalah sementara yang airnya terus mengalir walaupun disana-sini masih dapat menyebabkan kemacetan dan diharapkan pada tahun-tahun berikutnya bisa mengurangi resiko banjir di Provinsi DKI Jakarta. Untuk melihat banyaknya lokasi titik genangan adalah sebagai berikut Jakarta Timur sebanyak 5 titik lokasi genangan, Jakarta Selatan sebanyak 12 lokasi titik genangan, Jakarta Pusat sebanyak 9 lokasi titik genangan, Jakarta Barat sebanyak 17 lokasi titik genangan dan Jakarta Utara sebanyak 19 lokasi titik genangan. Gambar 1. Peta dan Lokasi Genangan Air Hujan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2012 A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 3 Laju pertambahan penduduk di Kota Jakarta senantiasa menuntut tersedianya lahan untuk menampung setiap kegiatannya. Karena keterbatasan ruang dan lahan maka, sempadan sungai yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau sudah dijadikan sebagai tempat bermukim. Sehingga untuk menormalisasi sempadan sungai maka perlu dilakukan penataan ruang, salah satunya dengan memindahkan masyarakat sejauh 10 meter dari sempadan sungai melalui pembangunan kampung deret atau pembangunan kampung vertikal. Salah satu kelurahan yang merupakan wilayah rawan banjir adalah Kelurahan Petogogan, sehingga dilakukan normalisasi sempadan sungai yang akan di alih fungsikan sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau. Berikut ini adalah laporan Analisis Spatial Rencana Detail Tata Ruang Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. 1.2 Ruang Lingkup A. Ruang Lingkup Materi Untuk menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan kawasan perkotaan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten dan menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien serta menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan perkotaan melalui pengendalian program-program pembangunan perkotaan, maka diperlukan Analisis Spasial Rencana Detail Tata Ruang Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan untuk menyelesaikan permasalahan penataan ruang khususnya di sepanjang sempadan Sungai Krukut. B. Ruang Lingkup Wilayah Lingkup wilayah kajian adalah Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan luas wilayah 86 hektar atau 0,86 Km 2 . 1.3 Tujuan Tujuan perencanaan ruang detail yang akan dilakukan yakni, membuka wilayah sempadan sungai sebesar 10 meter untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai fungsi ruang terbuka hijau dengan cara merelokasi permukiman yang berada di sekitar sempadan sungai melalui pembangunan kampung deret dan/atau pembangunan permukiman vertikal. A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 4 Gambar 2. Peta Eksisting Pola Ruang Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 5 BAB II METODOLOGI 2.1 Lokasi Perencanaan Lokasi perencanaan RDTR ini di Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru Kota Jakarta Selatan. 2.2 Jenis Data A. Data primer Pengumpulan data primer, dilakukan dengan observasi dan wawancara. Serta survey titik kordinat lokasi B. Data sekunder Pengumpulan data sekunder diperoleh dari Data BPS Kota Jakarta Selatan, foto udara dan citra google earth. 2.3 Metode Analisis Metode analisis dalam proses perencanaan ini menggunakan analisis spatial berbasis GIS. Melalui Pembangunan basis data spatial (peta digital) dan data atribut yang merupakan satu kesatuan. Adapun tahapan yang harus dilakukan dalam pembangunan basis data digital di antaranya adalah: Inputing data (peta, atribut) Proses input data dari peta dilakukan dengan melakukan digitasi dari citra google earth dan foto udara. Proses ini dilakukan dengan scanning peta yang kemudian di lanjutkan dengan on screen digitize pada ArcGis. Editing Proses editing dilakukan untuk menghapus dan membenarkan kesalahan-kesalahan pada saat proses inputing data. Transformasi koordinat (proyeksi peta) Khusus untuk data spatial, perlu dilakukan proses proyeksi peta yang bertujuan agar peta digital yang terbentuk sesuai dengan keadaan di lapangan. Topologi Topologi merupakan hal yang sangat penting aplikasi GIS, karena dengan topologi dapat dilakukan pengembangan terhadap informasi-informasi yang harus dimiliki dari obyek geografi. Tagging Proses ini diperlukan agar antara data spatial dan data atribut dapat saling berhubungan. A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 6 Link data spatial dan atribut Pada tahapan ini, terjadi proses link antar data spatial dan data atribut yang merupakan cikal bakal GIS. Analisis Proses analisis dilakukan jika basis data dan desain aplikasi sudah terbentuk. Gambar 3. Tahapan Analisis Data Atribut dalam MS Access atau MS Excel Peta Dasar dan Peta Tematik Digitasi Topologi Editing/Verifikasi Mapjoin Clipping Tagging Link Data Base Layout Desain Quality Control Peta siap di analisis dan siap cetak Sumber data Primer & Sekunder Uji Ketelitian Ya Persiapan data spatial Transformasi Tidak Prosessing data menggunakan ArcGis 10.1 A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 7 2.4 Tahapan Perencanaan Tahapan perencanaan dalam kegiatan ini sebagaimana di jabarkan dalam Gambar 4 sebagai berikut : Gambar 4. Tahapan Perencanaan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 8 BAB III DESKRIPSI WILAYAH KELURAHAN PETOGOGAN 3.1 Kondisi Geografis Kelurahan Petogogan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Kebayoran Baru Kota Jakarta Selatan Propinsi DKI Jakarta dengan luas wilayah 0.86 Km 2 , yang terdiri dari 79 RT dan 6 RW. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam peta administrasi berikut ini : Gambar 5. Peta Administrasi Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 9 3.2 Basis Ekologi A. Jenis Penggunaan Tanah Jenis penggunaan tanah di Kelurahan Petogogan didominasi oleh permukiman formal dan informal, perdagangan dan jasa, pemerintahan serta ruang terbuka hijau. Untuk lebih jelas sebarannya dapat dilihat pada peta penggunaan tanah sebagai berikut : Gambar 6. Peta Penggunaan Tanah Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 10 B. Nilai Tanah Di Kelurahan Petogogan terdapat kontradiksi status sosial masyarakatnya dimana ada kawasan perumahan elit yang berdasarkan informasi yang di dapat nilai tanah dan bangunannya bisa mencapai kurang lebih 40 juta rupiah per meter persegi. Tetapi terdapat pula kawasan kumuh (perumahan informal) khususnya disepanjang bantaran Sungai Krukut yang memiliki nilai bangunan yang rendah karena letak, kualitas dan kondisi eksisting fisik bangunan yang dianalogikan jika bangunan lama dipugar maka warga tidak mampu untuk membangun kembali bangunan dengan spesifikasi yang sama. Berdasarkan hasil analisis WTA (Willingness To Accept) yaitu analisis yang bertujuan untuk mengetahui nilai ganti rugi yang bersedia diterima masyarakat yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), nilai ganti rugi (WTA) yang bersedia diterima masyarakat untuk tanah dan bangunan di wilayah Kelurahan Petogogan setelah dipengaruhi faktor-faktor seperti luas lahan, jarak tempat tinggal dengan sungai, pendidikan, status kepemilikan tanah dan jenis bangunan adalah sebesar Rp. 2.110.000 per meter persegi. C. Status tanah Mayoritas tanah masyarakat Kelurahan Petogogan adalah tanah yang sudah bersertifikat dengan status Hak Milik. Namun masih ada masyarakat yang mendirikan bangunan secara ilegal karena tidak memiliki status kepemilikan tanah dan bangunan yang sah dari pemerintah yang umumnya mereka adalah warga pendatang (bukan warga asli Kelurahan Petogogan). Terdapat pula sebidang tanah negara yang kini oleh pemerintah setempat dijadikan sebagai lokasi Kampung Deret. Tentang status kepemilikian tanah secara terperinci belum dapat diketahui karena belum adanya penerbitan peta rincian status hak tanah secara lengkap dari instansi terkait yang mencantumkan nama pemilik dan status tanah serta batas bidang tanah yang ada di Kelurahan Petogogan. D. Kependudukan Kelurahan Petogogan terdiri dari 4.535 Kepala Keluarga (KK), dengan jumlah penduduk pada tahun 2011 berjumlah 15.429 jiwa. Jumlah ini mengalami peningkatan berjumlah 4.615 jiwa dari tahun sebelumnya yang berjumlah 10.814 jiwa (Gambar 7). Gambar 7. Karakteristik Kependudukan Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 11 3.3 Basis Ekonomi A. Mata pencaharian Masyarakat di Kelurahan Petogogan umumnya memiliki mata pencaharian sebagai pegawai negeri sipil, pegawai swasta, pedagang, buruh, pemulung dan tukang ojek dengan lokasi pekerjaan tersebar baik di dalam lingkup Kelurahan Petogogan maupun diluar wilayah Kelurahan Petogogan. Untuk masyarakat di sepanjang sempadan Sungai Krukut didominasi oleh mata pencaharian sebagai tukang ojek, buruh dan pemulung sampah yang umumnya bekerja di dalam lingkup wilayah Kelurahan Petogogan. B. Pendapatan Secara umum pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat di Kelurahan Petogogan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu kategori pendapatan tinggi (rata-rata di atas 10 juta per bulan) yang dimiliki oleh masyarakat dengan jenis pekerjaan sebagian pegawai swasta, sebagian pegawai negeri sipil dan sebagian pedagang; kategori pendapatan menengah (rata-rata 3 s/d 10 juta per bulan) yang juga dimiliki oleh masyarakat dengan jenis pekerjaan sebagian pegawai swasta, sebagian pegawai negeri sipil dan sebagian pedagang; kategori pendapatan rendah (rata-rata kurang dari 3 juta per bulan) yang didominasi oleh masyarakat dengan mata pencaharian sebagai pedagang, buruh, pemulung dan tukang ojek. Masyarakat yang tinggal di sempadan Sungai Krukut umumnya termasuk dalam kategori pendapatan rendah, bahkan banyak yang pendapatan per bulannya tidak menentu karena jenis pekerjaan musiman, seperti buruh (kuli bangunan) dan pemulung sampah. Pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Kelurahan Petogogan yang memperlihatkan arah pertumbuhan ekonomi dilihat dari mayoritas mata pencaharian dan pendapatan masyarakat Kelurahan Petogogan yang saling berkaitan seperti sektor swasta (jasa) dan perdagangan dimana penghasilan masyarakat yang berprofesi sebagai pegawai swasta, PNS dan pedagang memiliki tingkat pendapatan di kategori rendah, menengah dan tinggi. Percepatan pertumbuhan didorong oleh pembangunan fisik yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta pembangunan pusat-pusat bisnis di sekitar wilayah Petogogan yang dilaksanakan oleh pihak swasta serta lokasi Kelurahan Petogogan yang dinilai strategis berada dekat kawasan pusat perdagangan blok M. C. Sarana Prasarana Sektor angkutan dan komunikasi juga mengalami pertumbuhan guna menunjang sektor perdagangan dan jasa yang ada di Kelurahan Petogogan. Maraknya penggunaan telepon seluler ikut memberikan dampak yang sangat besar terhadap pertumbuhan sub sektor komunikasi yang dapat dikembangkan di wilayah ini. Sarana dan prasarana di Kelurahan Petogogan terdiri dari sarana peribadatan, sarana kesehatan, dan fasilitas umum dan telekomunikasi dapat dilihat dalam tabel 1. A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 12 Tabel 1. Jumlah Sarana Pendidikan, Sarana Olahraga dan Taman Rekreasi, Sarana Ekonomi, Sarana Peribadatan, Sarana Kesehatan, Sarana Umum dan Komunikasi di Kelurahan Petogogan NO. SARANA JUMLAH 1. Sarana Pendidikan TK 1 SD Negeri 0 SD Swasta 3 SMP Negeri 0 SMP Swasta 2 SMA Negeri 0 SMA Swasta 2 Kursus Komputer 1 2. Sarana Olahraga dan Taman Rekreasi Bulu Tangkis 4 Tenis 4 Bola Volly 1 Lainnya 1 Taman Terbuka 3 3. Sarana Ekonomi Pasar (Inpres, Pasar Swalayan, Waser, Mini Market) 8 Usaha (Salon, Penjahit, Bengkel, Show Room) 27 Bank (Pemerintah dan Swasta) 4 Industri (Kecil dan Rumah Tangga) 6 Restoran 73 4. Sarana Ibadah Masjid 6 Musholla 8 Gereja 1 5. Sarana Kesehatan Puskesmas 1 Posyandu 9 Dokter Praktek 3 Lainnya 4 6. Sarana Umum dan Komunikasi Kantor Pos 1 Telepon Umum 10 Wartel 6 Warnet 2 Halte Bus 6 Sumber: BPS DKI Jakarta A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 13 Adapun sebaran sarana prasarana dan basis ekonomi tersebut dapat dilihat dalam peta sarana dan prasaran sebagai berikut: Gambar 8. Peta Sebaran Sarana Prasarana di Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 14 BAB IV FORMULASI PERENCANAAN 4.1 Penetapan Prasyarat Lokasi yang Digunakan A. Analisis Pola Ruang Kelurahan Petogogan Adapun pola ruang Kelurahan Petogogan dapat dilihat dalam peta pola ruang sebagai berikut: Gambar 9. Peta Pola Ruang Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 15 B. Identifikasi pola fisik permukiman di sempandan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan Adapun pola fisik permukiman di sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan sebagai berikut : Gambar 10. Kondisi Eksisting Permukiman di Sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan Gambar 11. Kondisi Sungai Krukut yang Berbatasan dengan Permukiman Penduduk A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 16 Gambar 12. Sebagian Kondisi Permukiman Penduduk yang Teratur dan Berada di Bantaran Sungai Krukut Gambar 13. Kondisi Sungai Krukut yang Semakin Terdesak oleh Perbatasan Permukiman Penduduk A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 17 Gambar 14. Kondisi Sungai Krukut yang Berbatasan dengan Permukiman Teratur C. Peraturan Perundangan-undangan Penatapan prasyarat lokasi yang akan di tetapkan dalam perencanaan ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Rencana pengembangan kawasan sempadan sungai, kanal dan kali sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diarahkan sebagai berikut : a) sempadan sungai, kanal dan kali besar sekurang-kurangnya 100 (seratus) meter di kiri dan kanan sungai/kanal; b) sempadan anak sungai, kanal dan kali yang berada di luar permukiman sekurang- kurangnya 50 (lima puluh) meter di kiri kanan; c) sempadan anak sungai yang berada di dalam permukiman sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) meter sampai 15 (lima belas) meter di kiri kanan; dan d) kawasan sempadan sungai, kanal dan kali tidak boleh ada permukiman. Adapun dalam Analisis Spasial RDTR Kelurahan Petogogan ini dengan mengacu pada undang-undang tersebut, maka Sungai Krukut yang ada di Kelurahan Petogogan akan dibuka sempadannya sepanjang 10 meter dari tepi sungai (revitalisasi sempadan sungai). Sehingga permukiman sepanjang Sungai Krukut yang terletak 10 meter dari tepi sungai akan digusur dan direlokasi. 4.2 Perhitungan Kebutuhan dan Ketersediaan Ruang A. Analisis Kebutuhan Ruang Berdasarkan hasil buffering Sungai Krukut, terdapat 97 titik bagunan yang masuk zona pembukaan sempadan sungai sepanjang 10 meter, dengan 77 titik bangunan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 18 teridentifikasi sebagai tipe permukiman informal (pemukiman kumuh) yang akan direlokasi. Sedangkan 20 bangunan sisanya merupakan bangunan sarana dan prasarana milik pemerintah dan perumahan formal yang memiliki IMB dan sertifikat hak milik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalamGambar 15. Gambar 15. Peta Buffer Sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 19 Dari peta diatas, maka analisa kebutuhan lokasi relokasi permukiman informal (Permukiman kumuh) disepanjang sempadan Sungai Krukut sebagai berikut : 1. Analisis Kebutuhan Relokasi Untuk merelokasi permukiman informal disepanjang sempadan Sungai Krukut maka indikator yang digunakan berdasarkan tabel berikut ini : Tabel 2. Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah Sederhana Sehat (Karakteristik Rumah Sehat) Tabel 3. Jumlah dan Kepadatan Bangunan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 20 2. Kebutuhan Lokasi Relokasi Dengan mengacu pada indikator karakteristik rumah sehat dan indikator jumlah dan kepadatan bangunan pada tabel diatas, maka analisis kebutuhan perumahan untuk relokasi adalah sebagai berikut : Diperlukan 77 unit rumah pada kampung vertikal; Dengan asumsi, setiap unit luasnya 40 m 2 ; Untuk menampung sekitar 385 jiwa (asumsi 1 keluarga rata-rata terdiri dari 5 orang), diperlukan ruang terbuka minimal 770 m 2 , sehingga total luas tanah yang diperlukan untuk membangun rusun adalah 810 m 2. B. Analisis Ketersediaan Ruang Ketersediaan ruang untuk relokasi dalam RDTR ini dianalisis berdasarkan overlay peta kondisi eksisting Kelurahan Petogogan dengan indikator persyaratan sebagai berikut : 1) Masih berada pada wilayah Kelurahan Petogogan; 2) Berada pada area permukiman; 3) Berada pada wilayah yang tidak rawan banjir; 4) Mencukupi kebutuhan lahan seluas minimal 810m 2 ; 5) Cukup dekat dengan fasilitas umum, fasilitas sosial dan pusat kegiatan. . A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 21 Gambar 16. Analisis Overlay Pola Ruang Untuk Memilih Lokasi Kampung Vertikal Yang Diinginkan (memerlukan area dengan lahan 810 m 2 ) Dari hasil analisis GIS, terdapat dua alternatif lokasi yang tersedia untuk merelokasi pemukiman informal (permukiman kumuh) dari sempadan Sungai Krukut yang terletak di tengah-tengah pemukiman kelurahan dengan luas wilayah 4432 m 2 dan di wilayah bagian selatan pemukiman kelurahan dengan luas wilayah 8828 m 2 . Berikut ini peta rencana relokasi permukiman informal (pemukiman kumuh). A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 22 Gambar 17. Peta Rencana Relokasi Permukiman Informal (Pemukiman Kumuh) di Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 23 4.3 Analisa Kesesuaian dan Perhitungan Daya Tampung Dari hasil analisis GIS dengan menggunakan teknik overlay yang mengacu pada indikator pesyaratan pemilihan lokasi relokasi pemukiman informal (pemukiman kumuh) diperoleh lokasi-lokasi relokasi yaitu: 1) Cukup dekat dengan fasilitas umum, fasilitas sosial dan pusat kegiatan Gambar 18. Keterjangakauan Lokasi Relokasi Dengan Fasilitas Umum 2) Berada pada wilayah yang tidak rawan banjir Berdasarkan peta rawan banjir dan peta kontur Kelurahan Petogogan dengan acuan kejadian banjir tertinggi di Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2012, diperoleh lokasi terpilih cukup jauh dari lokasi rawan banjir dan terletak di wilayah yang relatif cukup tinggi dari daerah gengan banjir. A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 24 Gambar 19. Peta Kawasan Rawan Banjir Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 25 Gambar 20. Peta Kontur Kelurahan Petogogan A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 26 Dari hasil overlay peta rawan banjir dan peta kontur Kelurahan Petogogan, maka dapat disimpulkan lokasi relokasi permukiman informal sudah sesuai dengan kriteria kesesuaian dan daya tampung lahan dimana lahan yang dibutuhkan seluas 810m 2 sementara lahan yang tersedia terdiri dari dua alternatif yang pertama seluas 4432 m 2 dan yang kedua seluas 8828 m 2 . Gambar 21. Peta Kesesuaian Lahan Relokasi Pemukiman Informal A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 27 BAB V KESIMPULAN (Terjemahan Desain Rencana Pengelolaan Ruang) 1. Dengan mencermati informasi masyarakat di sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan bahwa mereka memahami dan menyadari tinggal di lokasi yang bukan hak milik mereka dan tidak diperuntukkan bagi pemukiman, maka situasi ini (cukup) kondusif untuk dilakukannya penataan bagi warga yang tinggal pada sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan; 2. Situasi kondusif tersebut relevan bagi kebijakan pemerintah yang secara lintas sektoral berencana melakukan penataan pemukiman sempadan Sungai Krukut Kelurahan Petogogan secara komprehensif; 3. Dukungan bagi masyarakat di sempadan Sungai Krukut terkait kesediaan untuk ditata adalah bahwa mereka berharap ada uang pesangon atau ganti rugi karena selama tinggal di sempadan Sungai Krukut mereka membayar pajak. Terkait hal ini diperlukan suatu forum; 4. Pertemuan antara pihak pemerintah dan masyarakat untuk secara transparan mendiskusikan permasalahan dan kebutuhan bersama perlu dilakukan, sehingga dibutuhkan keterlibatan kelompok masyarakat yang luput dari perencanaan dan sentuhan pembangunan fasilitas kota; 5. Untuk menghasilkan perencanaan yang komprehensif maka diperlukan dukungan perencanaan dengan visi misi yang sama, baik perencanaan untuk wilayah sekitar dengan ruang lingkup yang sama maupun perencanaan untuk ruang lingkup yang lebih luas. A n a l i s i s S p a s i a l R e n c a n a D e t a i l T a t a R u a n g K e l u r a h a n P e t o g o g a n 28 REFERENSI Anonim. 2009. Pendataan Potensi Desa/Kelurahan di Indonesia. Badan Pusat Statistik. Jakarta Anonim. 2013. Bahan Mata Kuliah Konsep dan Teknik Perencanaan Spasial. Magister Geografi Fakultas MIPA Universitas Indonesia. Depok. Rahman, Herjuna. 2008. Aplikasi Program Water Balance Model Untuk Manajemen Air Hujan Perkotaan: Studi Kasus Pada Sub DAS Sugutamu Jawa Barat. Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Depok Badan Pusat Statistik. 2010. Data Per Kelurahan di Jakarta Selatan. Hasil Sensus Penduduk 2010. BPS Kota Jakarta Selatan.