LAPORAN PKL Ifen
LAPORAN PKL Ifen
LAPORAN PKL Ifen
PENDAHULUAN
Peran tenaga kefarmasian dalam pelayanan kefarmasian tidak lagi sekedar neracik
obat,tetapi juga memberikan informasi obat yang aman dan benar.Pelayanan kefarmasian
yang berorientasi pada produk dan penyerahan obat kepada pasien secara bertahap dan
pasti dapat ditingkatkan demi kebutuhan pasien dan tenaga kefarmasian itu sendiri
(Depkes 2009).
1
1.2 TUJUAN
1. Tujuan Pelaksanaan PKL
Penyelenggaraan Praktek Kerja Lapangan (PKL) bertujuan untuk
a. Dapat memahami lebih dalam tentang dunia kerja dengan segala permasalahan
yang dihadapi
b. Dapat menganalisa sistematika kerja perusahaan dalam menangani setiap
proyeknya.
c. Menjadi bekal yang baik ketika penulis akan terjun kedunia kerja. PKL
dilaksanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja yang
profesional sehingga diharapkan siswa mampu menerapkan ilmu yang
didapatkannya semasa PKL.
1.3 MANFAT PELAKSANAAN PKL
1. Meningkatkan kualitas Pendidikan yang diberikan kepada peserta didik dengan cara
praktek langsung di lapangan kerja.
2. Mengetahui cara menerima resep sari pasien, cara mengerjakannya, dan mneyerahkan
obat kepada pasien.
3. Menambah pengalaman dan wawasan mengenai pekerjaan kefarmasian di apotek.
4. Melatih kedisplinan, inisiatif, tanggung jawab, motivasi kerja kemampuan bekerja sama
dan etika dalam lingkungan kerja.
2
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1Definisi Apotek
2.1.1 Pengertian Apotek
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia yang terbaru Nomor 9 Tahun
2017 Tentang Apotek juga menyebutkan bahwa apotek merupakan sarana pelayanan
kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker dan tenaga kefarmasian
lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2017).
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian dan menyalurkan perbekalan farmasi kepada masyarkat. Apotik mempunyai
dua fungsi yaitu: sebagai unit pelayanan kesehatan, apotek berkewajiban menyiapkan
onbat-obatan tertentu, aman, merata dan terjangkau oleh masyarakat., memberikan
informasi tentang penggunaan obat secara rasional demi kesejahteraan pasien. Kedua,
sebagai intitusi bisnis dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan mengingat dana
yang dipergunakan untuk usahanya cukup besar.
2.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian dijelaskan bahwa tugas dan fungsi apotek adalah:
1. Sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan.
2. Apotek memiliki fungsi sebagai sarana pelayanan yang dapat dilakukan pekerjaan
kefarmasian berupa peracikan, pengubahan benuk, pencampuran dan penyerahan
obat.
3. Apotek berfungsi sebagai sarana penyalur perbekalan farmasi yang
harusmenyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata.
4. Apotek berfungsi sebagai tempat pelayananinformasi meliputi:
Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan
baik kepada dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatanlainnya maupun kepada
masyarakat.
Pelayanan informasi mengenai khasiat obat, keamanan obat, bahaya dan mutu obat
serta perbekalan farmasi lainnya (Menteri KesehatanRepublik Indonesia, 2017).
3
2.2 Tata Cara Pendirian Apotek
2.2.1 Persyaratan Pendirian
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 tahun 2017, pendirian apotek adalah:
1. Apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri dan atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
2. Apoteker dalam mendirikan apotek bekerja sama dengan pemilik modal maka
pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker.
3. Papa nama sesuai dengan PMK No.9 Tahun 2017:
a. Apotek wajib memasang papan nama sesuai dengan Praktek Apoteker yang
terdiri atas papan nama Apotek memuat informasi mengenai: Nama Apotek,
No. SIA dan Alamat.
b. Papan nama Praktek Apoteker yang memuat paling sedikit nama Apoteker,
nomor SIPA, dan jadwal Praktek Apoteker.
4. Pasal 19 UU No. 9 tahun 2017, setiap Apoteker dan teknis kefarmasian harus
bekerja sesuai:
a. Standar profesi
b. Standar prosedur operasional
c. Standar pelayanan
d. Etika profesi
e. Menghormati hak pasien dan mengutamakan kepentingan pasien.
5. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Apotek harus menjamin ketersediaan
sedian farmasi,a alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai:
a. Aman
b. Bermanfaat atau berkhasiat
c. Bermutu
d. Terjangkau
Pendirian apotek harus memenuhi ketentuan-ketentuan atau persyaratan yang
berlaku (undang-undang persyaratan apotek) dan harus di penuhi guna mendapatkan
izin agar apotek yang kita rencanakan dapat beroperasi sesuai peraturan yang
berlaku. Adapun persyaratan dalam pendirian apotek diantaranya:
1. Lokasi Apotek
4
Lokasi untuk apotik baru atau perpindahan apotek beserta jumlah dan jarak
minimal antara apotek yang diperkenalkan untuk suatu wilayah tertentu
ditetapkan oleh Menteri.
Penentuan lokasi jumlah dan jarak apotek harus dipertimbangkan segi
penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan jumlah penduduk dan dokter
yang berpraktek.
2. Papan nama yang dimaksud harus memuat:
Nama apotek
Nama apoteker pengelola apotek (APA)
Alamat apotek
Nomor surat izin apotek
3. Administrasi yang harus ada seperti
Kartu stock, nota penjualan, kwitansi, copy resep, dan surat pesanan (SP).
Buku-buku (Buku pembelian, buku penjualan, buku keuangan dan buku harian).
Buku-buku wajib apotek (FI, ISO, peraturan perundang-undang. Buku standar,
IMO).
4. Tenaga apoteker seperti:
Apoteker pengelola apotek (APA)
Apoteker pendamping
Asisten apoteker
2.3 Profil Apotek
1. Tentang apotek
Apotek Ende Farma adalah salah satu apotek swasta yang ada di kotra Ende.
Apotek didirikan pada tahun 2022. Apotek Ende Farma ini didirikan oleh Muhamad
surya Rahman dan Muhamad Ishadi Karim.
2. Lokasi Apotek
Apotek Ende Farma berada di Jl. Ateau 1, Kelurahan Mbongawani, Kecamatan Ende
Selatan, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
5
2.4 Struktur Organisasi Apotek
Asisten Apoteker
(Muhamad Ishadi Karim, A.Md.Farm)
(Desmira P. Dienina, A. Md.Farm)
TTK
(Tenaga Kerja Kefarmasian)
Dian
Mila
Richard
6
Pemilik sarana apotek merupakan pemilik modal apotek, bertanggung jawab atas
penyediaan sarana dan prasarana apotek yang sesuai dengan standar yang berlaku.
3. Asisten Apoteker
Asisten apoteker bertugas membantu APJ dan apoteker pendamping dalam
pelayanan obat kepad-
a pasien. Tugas dan tanggung jawab asisten apoteker meliputi:
Menerima pasien dan mencatat resep dokter.
Mempersiapkan obat-obatan ses7suai dengan resep dokter.
Memberikan informasi mengenai obat kepada pasien.
Menjaga kebersihan dan kerapian ruang pelayanan apotek.
4. Tenaga Teknis Kefarmasian
Membantu apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian dengan baik dan
benar.
Mencatat stock obat yang habis atau hamper habis di buku defecta.
Membantu apoteker melayani obat untuk pasien sesuai dengan resep dokter.
Memberi harga pada resep yang baru masuk.
2.6 Sarana, Tata Ruang dan Perlengkapan
5. Sarana dan Prasarana Apotek
a. Sumber air besrih dan sanitasi
- Sumber air bersih tersedia
- Tersedia tempat sampah yang memenuhi persyaratan
b. Instalasi listrik
Sistem kelistrikan dan penempatannya harus mudah dioperasikan. Diamati,
dipelihara, tidak membahayakan, tidak mengganggu lingkungan, bagian bangunan
dan instalasi lain.
c. Penerangan
Pencerahan cukup menjamin untuk kegiatan pelayanan
d. Pencegahan dan penganggulangan kebakaran
Alat pemadam api ringan (APAR)
e. Papan nama aoptek
Memuat inbformasi paling sedikit berupa nama Apotek, nomr Izin Apotek dan
alamat Apotek
f. Papa nama praktek apoteker
7
Memnuat informasi paling sedikit berupa nama Apoteker, nomor Surat Izin Apotek
(SIPA) dan jadwal praktek Apoteker .
g. Ruang penerimaan resep, yang biasanya ditempatkan di bagian depan dan harus
terlihat oleh pelanggan yang datang. Pada ruang resep membutuhkan satu set meja,
kursi, dan komputer untuk melakukan input penjualan.
h. Ruang penyerahan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan BMHP. Ruangan ini
biasanya digabungkan dengan ruang penerimaan resep kareena berupa konter
penyerahan obat.
i. Ruang konseling, yang salah satu syaratnya harus menjamin privasi pelanggan
karena berguna untuk proses interaktif untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman obat. Umumnya, ruangan ini memiliki satu set meja kursi, buku
referensi, poster, alat bantu konseling, buku catatan, dan lain-lain.
j. Ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, BMHP, dan komoditi lainnya.
k. Ruang arsip, yang berfungsi untuk menyimpan dokumen aktivitas pengelolaan dan
dokumen catatan pelayanan.
6. Tata Ruang
R5
R4 R3
R1 R2
Keterangan :
R1 : Ruang Tunggu
R2 : Ruang Pelayanan
R3: Ruang Dokter
R4 : Ruang Racik
R5 : Toilet
7. Perlengkapan Apotek
1. Alat Pembuatan, Pengolahan dan Peracikan
Gelas Ukur
Timbangan Miligram dengan anak timbangan yang sudah ditera
Timbangan Gram dengan anak timbangan yang sudah ditera
Thermometer berskala 100◦C
8
Mortir & stemper
Spatel logam/ tanduk plastik dan porselen
2. Perlengkapan dan Alat Perbekalan Farmasi
Lemari dan rak menyimpan obat
Lemari pendingin
Lemari narkotika, psikotropika, OOT, dan prekursor
3. Wadah Pemngemas dan Pembungkus
Etiket
Wadah pengemas dan Pembungkus unuk menyerahkan Obat
4. Alat Adminstrasi
Blanko Pesanan Obat
Blanko Kartu stock obat
Blanko Salinan Resep
Blanko Faktur
Buku Pembelian
Buku Pengiriman
Buku Pembukuan Keuangan
Buku Pencatatan Narkotika
Buku Pencatatan Psikotropika
Buku Pencatatan Obat-obat Tertentu
Buku Pencatatan Prekursor
Alat-alat Tulis dan Kertas
9
BAB III
3.1 Perencanaan
Perencanaan persediaan obat-obatan di apotek berfungsi untuk memprediksi
kebutuhan persediaan obat untuk jangka waktu tertentu. Berdasarkan Keputusan
Menteri Kesehatan No. 1121/Menkes/SK/XII/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Pelayanan Kesehatan Dasar, proses
perencanaan persediaan obat meliputi:
Tahap Pemilihan Obat
Obat dipilih berdasarkan jenis dan memperhatikan pola penyakit, pola konsumsi,
pola budaya, serta pola kemampuan masyarakat.
Tahap Komplikasi Pemakaian Obat
Kompilasi pemakaian obat adalah rekapitulasi data pemakaian obat di unit
pelayanan kesehatan yang bersumber dari Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO).
Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat
Perhitungan kebutuhan obat dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi
dengan melakukan analisis trend pemakaian obat tiga tahun sebelumnya atau lebih,
serta menggunakan metode morbiditas yakni perhitungan kebutuhan obat
berdasarkan pola penyakit.
Tahap Proyeksi Kebutuhan
Perhitungan kebutuhan obat yang dilakukan secara komprehensif dengan
mempertimbangkan data pemakaian obat dan jumlah sisa stok pada periode yang
masih berjalan.
3.2 Pengadaan
Proses pengadaan stok obat di apotek harus melalui jalur resmi dan sesuai dengan
regulasi. Seperti, harus adanya surat pesanan yang dikirimkan ke pihak distributor
(PBF). Lalu, menggunakan surat pesanan khusus untuk pengadaan obat jenis narkotika
dan psikotropika, serta wajib dilakukan oleh apoteker penanggung jawab.
10
3.3 Penyimpanan (Tata Letak)
Tata cara dan pengelolaan penyimpanan obat secara tepat penting untuk
dilakukan karena obat merupakan salah satu faktor terpenting dalam pelayanan
kesehatan. Penyimpanan obat-obatan harus memperhatikan beberapa hal berikut
seperti:
Obat disimpan dalam wadah asli dari pabrik (jika obat dipindahkan ke wadah lain, harus
dicegah agar tidak terkontaminasi dan ditulis informasi yang jelas), wadah obat juga
harus memuat nomor batch dan tanggal kedaluwarsa.
Semua obat-obatan harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga terjamin
keamanan dan stabilitasnya.
Sistem penyimpanan dapat dilakukan dengan memperhatikan kelas terapi obat, bentuk
sediaan (liquid, semisolid, dan solid), stabilitas obat (dipengaruhi oleh suhu, cahaya, dan
kelembaban), serta disusun berdasarkan abjad.
Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO (First in
First Out). FEFO yaitu obat yang sudah mendekati tanggal kedaluwarsa akan
dikeluarkan terlebih dahulu, sedangkan FIFO artinya obat yang datang lebih dulu, akan
dikeluarkan pertama.
Obat Narkotika dan Psikotropika harus disimpan di lemari khusus dua pintu dengan
ukuran 40×80×100 cm dilengkapi kunci ganda.
Obat Narkotika dan Psikotropika harus disimpan di lemari khusus yang dibuat
seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat, tidak mudah dipindahkan dengan ukuran
40x80x100 cm dilengkapi kunci ganda. Lemari khusus ini diletakkan di tempat yang
aman serta tidak terlihat oleh umum dan kunci lemari dikuasai oleh apoteker
penanggung/apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.
3.4 Pengelolaan Barang
1. Pendistribusian ke konsumen
Dalam hal pendistribusian obat ke konsumen, apotek harus menjamin ketersediaan
stok obat di apotek. Dibutuhkan manajemen stok yang baik agar persediaan obat di
apotek selalu terpenuhi dan pelanggan dapat terlayani dengan baik. Apotek jadi tak
perlu menolak pelanggan karena stok kosong.
11
3.5 Pelayanan Kefarmasian Diapotek
1. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi standar:
a. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai;
dan
b. Pelayanan farmasi klinik.
2. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. perencanaan;
b. pengadaan;
c. penerimaan;
d. penyimpanan;
e. pemusnahan;
f. pengendalian; dan
g. pencatatan dan pelaporan
3. Pelayanan Resep (Resep Tunai dan Kredit)
1. Obat Keras
Obat keras adalah obat yang hanya boleh diserahkan dengan resep dokter,
dimana pada bungkus luarnya diberi tanda bulatan dengan lingkaran hitam
dengan dasar merah yang didalamnya terdapat huruf “K” yang menyentuh garus
tepi. Obat yang masuk ke dalam golongan obat keras ini adalah obat yang
dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral.
2. Obat Narkotika
Defenisi narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sinestis
maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
(Undang-undang NO. 35 Tahun 2009).
4. Pelayanan Non Resep
Penjualan meliputi obat bebas/obat bebas terbatas, alat kesehatan, serta
baranng lain yang dapat dijual stanpa resep dokter. Misalnya jamu dan fitofarmaka.
12
Kriteria obat yang dapat diberikan tanpa resep dokter sesuai permenkes
N0.919/Menkes /per/X/1993/ adalah sebagai berikut:
Tidak dikordinasikan pada wanita hamil atau anak-anak di bawah usia 2 tahun
dan orang tua diatas 65 tahun
Penggunaanya tidak menggunakan cara dan alat khusus yang harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan.
Pengobatan sendiri dengan obat yang dimaksudkan tidak memberikan resiko
pada kelanjutan penyakit.
Penggunaannya dapat dilakukan dengan mudah untuk pasien.
Obat yang dimaksud memiliki rasio keamanan yang dapat dipertanggung
jawabkan untuk pengonbatan sendiri.
Penggunaanya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia
5. Kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
1. Pertama, upayakan untuk memberi pelayanan swamedikasi yang baik. Caranya
bisa dengan mengumpulkan data pasien (riwayat penggunaan obat, gambaran rasa
sakit yang diderita, dan lainnya), sebelum memberi rekomendasi obat yang tepat.
2. Kedua, menggunakan pendekatan yang berorientasi pada pelanggan (customer
oriented). Caranya bisa dengan menempatkan pelanggan sebagai prioritas utama,
menunjukkan empati yang tinggi, serta punya motivasi untuk memberi solusi pada
pelanggan.
3. Ketiga, utamakan untuk memberi informasi (edukasi) ke pelanggan. Semua
pelanggan yang datang ke apotek punya hak sama untuk memperoleh edukasi
seputar cara penggunaan obat, efek samping, dan indikasi obat. Agar
pengonsumsian obat dapat dilakukan dengan benar, serta efektif.
3.6 Pencatatan dan Pelaporan Obat Narkotika dan Psikotropika
1. Pencatatan Obat Narkotika dan Psikotropika
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,
Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan Narkotika dan Perkusor Farmasi PAsal 43
ayat 1 menyatakan bahwa industri Farmasi, PBF, Instlasi Farmasi Pemerintah,
Apotek, Puskesmas, Intalasi Farmasi Rumah Sakit, Intalasi Farmasi Klinik, Lembaga
Ilmu Pengetahuan, atau Dokter Praktik perorangan yang melakukan produksi,
13
penyaluran, atau penyerahan Narkotika, Psikotropika dan Perkusor Farmasi wajib
membuat pencatatan mengenai pemasukan dan atau pengeluaran Narkotika,
Psikotropika dan Perkusor Farmasi. Pencatatan tersebut paling sedikit terdiri dari
atas :
14
Perkusor Farmasi dalam bentuk obat jadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi atau
Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Balai setempat.
Pelaporan paling sedikit terdiri atas
Nama, bentuk sediaan dan kekuatan Narkotika, Psikotropika, dan Perkusor
Farmasi.
Jumlah persediaan.pesediaan awal dan akhir bulan
Tanggal, nomor dokumen dan sumber penerimaan.
Jumlah yang diterima.
Tanggal, nomor dokumen dan tujuan penyaluran.
Jumlah yang diserahkan.
No batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau penyaluran dan persediaan
awal dan akhir.
15
BAB IV
16
b. Melakukan skrining resep. Skrining resep adalah pemerikasaan pertama oleh
Apoteker setelah resep diterima. Dalam skrining resep meliputi beberapa hal
sebagai berikut.
1. Persyaratan Administratif
Nama, SIP, dan alamat Dokter
Tanggal penulisan resep,
Tanda tangan/paraf Dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
Nama obat, dosis, dan jumlah yang diminta
Cara pemakaian yang jelas.
2. Kesesuaian farmasetik, bentuk, sediaan, dosis, potensi, stabilitas, cara dan
lama pemberian.
3. Pertimbangan klinis, adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
(dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain.
c. Mengecek apakah obat yang diresepkan tersedia atau tidak. Jika obat yang
diminta tersedia, maka hitung berapa nominal yang harus dibayarkan oleh pasien.
d. Jika pasien setuj, maka obat diambilkan dan disiapkan
e. Serahkan ke pasien dengan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
3. Menerima dan Mengecek Barang Dagang
Penerimaan obat harus dicocokan antara faktur dengan barang yang dating, meliputi:
a. Nama Apotek
b. Nama dan jumlah sediaan
c. No batch
d. Kondisi Fisik dan kondisi wadah obat
e. Tanggal kadaluarsa
Jika barang dan faktur sudah cocok, selanjutnya faktur dari atas sampai faktur paling
bawah ditandatangin dan di stemple. Faktur asli diserahkan kepada sales, dan faktur
paling bawah diambil untuyk arsip apotek. Jika pembayaran cash, faktur yang paling
bawah atas/faktur asli yang diambil.
17
5. Menyetok Barang Hampir/Sudah Habis
Menyetok barang biasanya pada pagi hari setelah apotek dibuka. Jika ada obat
didepan hampir habis/sudah habis maka diambilkan obat yang ada di gudang
penyimpanan.
6. Menulis Kartu Stock
Semua pegawai dan siswa PKL menulis barang/obat stolk, meliputi nama obat,
tanggal penulisan, no batch, tanggak kadaluarsa, nama PBF dan jumlah yang tersedia.
18
a. Nomor izin praktek Ada
Resep sah
b. Alamat dan Nomor telp dokter Ada
2. Kelengkapan resep
Ada
a. Inscriptio
Ada
-Nama dokter
-Tempat tanggal penulisan Ada
resep
-Tanda R/ Ada
b. Ordinatio
Ada
- Nama obat
Ada Resep sah
- Bentuk sediaan
Ada
- Kadar obat
b. Signature Ada
- Nama pasien
Ada
- Umur pasien
d. Subscribtio
- Tanda tangan dokter
EMTURNAS
A. Komposisi obat
Paracetamol 500 mg
B.indikasi
Obat ini dapat digunakan untuk meredakan sakit kepala,
sakit gigi, sakit pada otot, nyeri yang mengganggu dan
menurunkan demam yang menyertai flu/influensa serta
19
demam sesudah vaksinasi.
c.Dosis Dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun : 1 kaplet tiap 4-6
jam. Sehari tidak boleh lebih dari 6 kaplet atau sesuai
dengan petunjuk dokter. Tidak dianjurkan untuk anak-
anak usia di bawah 12 tahun.
D. Efek samping Perut bagian kanan atas terasa sakit. Urine berwarna
gelap.
DEXAHARSEN O,5 Mg
A.Komposisi
Dexamethasone 0.5 mg
B. Indikasi Mengobati supresi inflamasi dan
gangguan alergi, Cushing's disease,
hyperplasia adrenal, dan sebagainya.
C. Dosis Dosis awal bervariasi tergantung berat
ringannya penyakit. Dewasa: 0.5-9 mg/
hari dalam dosis terbagi. Anak: Dosis
awal 0.02-0.3 mg/kg setiap hari dalam 3-
4 dosis terbagi. Dosis tergantung pada
tingkat berat ringannya penyakit dan
respon pasien.
D. Efek samping Muskuloskeletal : Miopati steroid,
kehilangan massa otot, kopresi fraktur
vertebral, faktur patogik pada tulang
panjang dan osteonekrosis. Saluran
Pencernaan : Kemungkinan perforasi dan
pendarahan, pankreatis, distensi
abdominal dan esofagus ulseratif. Sistem
syaraf : Kejang, tekanan intrakranial
bertambah, vertigo. Metabolisme
karbohidrat dan lemak. Metabolik:
Keseimbangan nitrogen negatif dan
katabolisme protein. Pada penderita
diabetes : meningkatnya glukoneogenesis
dan mengurangi sensitifitas insulin.
Hipokalemia, hipertensi, gagal jantung
bawaan, osteoporosis, supremasi
pertumbuhan pada anak-anak.
20
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Ende Farma yang dilaksanakan dari
tanggal 14 Maret-14 Mei 2024 dapat disimpulkan bahwa:
1. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini sangat bermanfaat bagi kami, karena dapat
menambah keterampilan, pengetahuan untuk calon Asisten Tenaga Kefarmasian dalam
bidang kesehatan khussunya kefarmasian.
2. Apotek Ende Farma telah melakukan pengelolaan resep dan pelayanan obat kepada
pasien dengan baik sehingga konsumen memiliki ketertarikan untuk membeli obat di
Aptek tersebut.
5.2 Saran
1. Bagi Siswa
a. Kerja sama yang sudah terjalin dengan baik antara siswa PKL dengan Apotek ende
Farma sebaiknya dikembangkan dan dipertahankan.
b. Sebaiknya siswa PKL lebih teliti dalam melakukan pekerjaan apapun dan lebih
bersikap tenang agar tidak terjadi kesalahan.
c. Sebaiknya siswa selalu bertanya kepada karyawan senior/Apoteker di Apotrek
apabila ada hal yang tidak dimengerti agar tidak terjadi suatu kesalahan.
2. Bagi Sekolah
a. Sebaiknya siswa lebih ditekankan untuk memahami dan mempelajari tentang cara
kerja kefarmasian di Apotek.
21
b. Sebaiknya lebih memperbanyak pembekalan PKL sebelum terjun di lapangan agar
lebih muda bekerja pada saat dilapangan dan tidak mendapat kesan yang kurang
baik di lapangan.
c. Sebaiknya guru pengantar PKL lebih sering monitoring/memantau siswa selama di
Apotek tempat PKL.
22